Membedah Merdeka Belajar Mas Menteri

Gambar. Cover Buku Freedom to Learn Karya Carl Rogers

Merdeka belajar sekarang sedang menjadi konsep utama dalam pendidikan di Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim merupakan orang pertama yang menyebarkan konsep ini di Indonesia.

Mendikbud yang ini, lebih suka dipanggil sebagai Mas Menteri. Selain milenial, dia juga sempat viral oleh surat edaran menyambut Hari Guru Nasional (HGN). Isi surat yang diluar dari kebiasaan menteri-menteri terdahulu, sangat ringkas, tidak bertele-tele.

Konsep merdeka belajar dijadikan mantra untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Ada Merdeka Belajar 1, yang ditujukan untuk pendidikan dasar dan menengah (sekolah). Ada Merdeka Belajar 2, untuk pendidikan tinggi (kampus).

Merdeka Belajar langsung jadi topik utama diberbagai media masa dan menjadi bahan diskusi  diantara para pemerhati dunia pendidikan. Konsep ini menimbulkan pro dan kontra. Ini wajar, karena digulirkan oleh Mas Menteri. Apalagi Kemendikbud merupakan ujung tombak dalam visi Presiden Jokowi, SDM Unggul Indonesia Maju.

Sebagai seorang lulusan Harvard University, Mas Menteri tentu banyak membaca literatur terbitan Amerika Serikat. Meskipun tidak kuliah pada jurusan pendidikan, Nadiem pasti membaca buku yang menjadi masterpiece buah karya ahli-ahli pendidikan. Teori pendidikan seperti behaviorisme, kontruktivisme, ataupun humanisme sudah barang tentu dipahami menteri yang sering tampil casual ini.

Merdeka Belajar dan Teori Humanisme

Merdeka belajar yang digaungkan oleh Nadiem mengingatkan kepada Buku Carl Ransom Rogers, yang berjudul Freedom to Learn. Sang penulis merupakan pionir dalam teori Humanisme.

Patut diduga pria berkacamata ini terinspirasi dari buku tersebut, atau pun dari Rogers. Buku tersebut melatar belakangi terbitnya buku-buku Carl Roger berikutnya yang berfokus pada learner-centered dan humanisme psikologi pendidikan.

Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata pemikiran Carl Roger dalam pendidikan memiliki lima prinsip utama. Prinsip-prinsip ini mungkin yang Mas Menteri jabarkan dalam kebijakan-kebijakannya.

Carl Roger yang seorang pencetus teori humanis dalam pendidikan sepertinya sangat menginsiprasi menteri kita. Ini didukung dengan jargon-jargon yang menteri keluarkan, salah satunya guru penggerak.

Prinsip-prinsip Merdeka Belajar

Prinsip pertama, seseorang tidak dapat mengajari orang lain secara langsung; seseorang hanya dapat memfasilitasi. Carl Roger yakin bahwa apa yang siswa lakukan lebih penting daripada yang guru lakukan.

Hal ini mungkin yang memberi Mas Menteri ide untuk menyederhanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Jadi fokus pembelajaran bukan pada RPP berlembar-lembar yang dibuat oleh guru, tapi pada aktivitas belajar yang dilakukan anak.

Prinsip guru sebagai fasilitator juga tersirat dalam pidato Mas Menteri pada Upacara Hari Guru Nasional (HGN) 2019. Guru tidak boleh dibebani tugas adminstratif yang belum tentu ada manfaatnya. Prinsip ini juga dipertegas poin pertama perubahan yang diharapkan mantan CEO GoJek ini, sebagai fasilitator guru dapat memfasilitasi anak berdiskusi, bukan sekedar mendengar.

Prinsip kedua, orang belajar hanya pada apa yang menurut mereka berguna bagi dirinya. Ini menjadi alasan mengapa relevansi materi pelajaran itu penting. Mas Menteri melaksanakan prinsip ini dengan cara mencoba merubah kurikulum perguruan tinggi melalui magang mahasiswa yang lebih lama, bahkan tiga semester.

Nadiem juga mendukung mahasiswa mengambil mata kuliah di luar bidang ilmunya. Mas Menteri berpikiran yang penting apa yang dipelajari mahasiswa berguna bagi mahasiswa itu sendiri.

Prinsip kedua ini juga mengkonfirmasi bahwa poin keempat yang disampaikan dalam pidato HGN. Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Bakat akan muncul jika mahasiswa (dan murid)  diberi kebebasan belajar apa yang mereka sukai dan yang ingin mereka coba.

Prinsip ketiga, pengalaman masa lalu akan berasimilasi dengan pengalaman masa sekarang dan membentuk pemahaman. Dari prinsip ini, Mas Menteri menghimbau penugasan secara portofolio serta menekankan pentingnya asesmen penalaran literasi dan numerik.  Hal ini karena penalaran literasi dan numerik akan lebih bermakna bagi siswa, daripada soal tes yang terkadang hanya ada umpan balik berupa benar dan salah dari guru.

Prinsip yang ketiga ini dipertegas dengan mengganti Ujian Nasional (UN) dengan asesmen kompetensi. Asesmen mengacu pada pada praktik baik, seperti PISA dan TIMSS. Selain itu, karakter juga dijadikan tolak ukur seorang murid.

Prinsip keempat, struktur organisasi diri akan lebih kaku jika pembelajaran di kelas dipenuhi dengan ancaman. Masih banyak kita temui di kelas-kelas dalam dunia pendidikan kita bahwa guru sering menggunakan ancaman untuk memaksa siswa mengikuti keinginan dari guru tersebut.

Mas Menteri mengeluarkan jargon Guru Penggerak, karena dia tahu bahwa dalam sekolah-sekolah tersebut pasti ada satu dua orang guru yang memiliki pandangan terbuka, dan mau diajak oleh siswa berdiskusi baik mengenai materi pelajaran ataupun peraturan-peraturan sekolah. Guru penggerak digunakan untuk membangun kepercayaan diri siswa, sehingga siswa berani berdiksusi dan memiliki pemikiran terbuka.

Prinsip kelima, situasi pendidikan paling efektif adalah (1) meminimalisir ancaman terhadap siswa dan (2) memfasilitasi perbedaan persepsi.

Banyak sekolah-sekolah yang mengikat siswa dengan aturan yang sangat banyak, dan bahkan tidak memberikan ruang kepada siswa untuk mengekpresikan persepsinya. Persepsi guru selalu benar, dan persepsi siswa selalu salah. Itu yang terjadi pada dunia pendidikan kita sampai saat ini. Mas Menteri berusaha mengikis kondisi yang demikian.

Hasil Merdeka Belajar

Lima prinsip yang telah disempaikan akan menghiasi kebijakan di Kemdikbud. Mas Menteri pasti sudah memikirkan dan menganalisis dampak apa yang ditimbulkan dari tiap-tiap kebijakan yang dibuatnya.

Apalagi dunia pendidikan, yang masih kita yakini sebagai salah satu jalan memperbaiki kondisi negara ini. Tentunya agar tidak ketinggalan dengan negara lain yang lebih maju.

Hasil dari merdeka belajar tidak dapat dilihat dalam waktu sekejap. Arah keberhasilan dari merdeka belajar setidaknya akan tampak pada peringkat PISA dan TIMSS pada tahun-tahun yang akan datang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *