Sebuah Apersepsi Pembelajaran Geosains

Apersepsi dalam pembelajaran sangat menentukan keberhasilan sebuah pembelajaran. Sampai hari ini saya masih teringat beberapa apersepsi yang dilakukan guru atau dosen saya. Meskipun dulu saat sekolah maupun kuiah di semester awal belum tahu kalau hal tersebut namanya apersepsi.

Dosen Mata Kuliah Geografi Komunikasi melakukan apersepsi dengan menanyakan; Bagaimana tanggapan Anda mengenai paper yang berjudul, ‘the end of geography?’ Sebagai mahasiswa pendidikan geografi, saat itu saya membayangkan ilmu geografi akan benar-benar punah.

Sebagai mahasiswa yang terbawa suasana oleh apersepsi dari dosen, akhirnya saya berselancar ke internet yang sekira dapat mencari pustaka untuk menganalisis tentang “the end of geography” dengan berbekal gawai Nokia symbian.

Tulisan yang secara tersirat menyampaikan tentang akhir dari geografi ialah Bab 5 Buku Future Shock, karya Alvin Toffler. Dia menggunakan istilah “demise of geography”, argumen yang dia sampaikan adalah bahwa geografi kehilangan arti penting karena orang cenderung bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain dan keragaman masyarakat serta tempat akan menghilang.

Sebagai mahasiswa geografi yang tiap saat dicekoki dengan pengertian geografi dari hasil seminar dan lokakarya (semlok) IGI (Ikatan Geograf Indonesia) 1988 di Semarang. Membuat saya beranggapan hilangnya keragaman (perbedaan) akan mengakibatkan punahnya geografi.

Geografi menurut semlok tersebut adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan. Tentu saya menjawab pertanyaan dosen dengan menyatakan bahwa geografi akan benar-benar punah.

Thomas Friedman (2005) dalam bukunya The World is Flat mengungkapkan bahwa globalisasi merupakan ancaman bagi aspek geografis yang nantinya akan tidak relevan.

Hal ini sudah diperkirakan oleh Stephen Graham (1998) yang menyatakan bahwa globalisasi melalui informasi teknologi dapat meniadakan ruang dan tempat. Ketiadaan ruang dan tempat seperti mengekstrasi faktor geografis, sehingga memunculkan “cyberspace” atau dalam istilah Marshall McLuhan dinamakan “Global Village”.

Setelah beberapa saat membuat para mahasiswanya berpikir, dosen tersebut kemudian mengatakan bahwa untuk mengatasi “punahnya geografi” kita dapat menggunakan Geografi Komunikasi. Benar-benar keren menurutku pendapat ini pada masa itu. Padahal saya tidak tahu maksudnya. Namun, sampai sekarang saya masih terngiang dengan apersepsi yang dilakukan oleh dosen tersebut. Sangat mengena di otakku.

Jadi dalam pembelajaran geosains, apersepsi itu sangat penting. Dapat berupa pertanyaan yang menimbulkan minat siswa untuk semangat belajar pada materi yang akan dipelajari. Buktinya sampai sekarang saya masih mencari jawaban atas “the end of geography”.

Daftar Pustaka:

Alvin Toffler. 1970. Future Shock. US: Random

Marshall McLuhan. 1989. Global Village: Transformations in World Life and Media in the 21st Century. UK: Oxford University Press

Stephen Graham. 1988. The end of geography or the explosion of place? Conceptualizing space, place and information technology. Progress in Human Geography, Vol. 22. 165. Hal 165-185.

Thomas Friedman. 2005. The World is Flat: A Brief History of the Twenty-first Century. US: Farra, Strays, and Giroux