RAHASIA LOLOS TES CPNS

Gambar Suasana Tes CPNS
( https://money.kompas.com/read/2020/01/21/092222726/catat-hari-ini-pelaksanaan-skd-cpns-2019-diumumkan?page=all )

Kali ini PendidikanGeosain.id akan menceritakan pengalamannya saat mengikuti tes CPNS tahun 2013. Ini mungkin agak melenceng dari tujuan awal dibuatnya web ini, tetapi penulis menganggap penting untuk berbagi pengalaman kepada sahabat PendidkanGeosain.id.

Ada banyak jalan menuju Roma, begitulah pepatah kuno mengatakan perihal mencapai sebuah tujuan. Begitupun untuk lolos CPNS, banyak  jalan yang ‘katanya’ dapat dilalui. Namun, yang dialami penulis adalah jalan normal, yang tanpa embel-embel nepotisme, apalagi kolusi dengan orang dalam.

Perlu diingat bahwa jalur yang dipakai penulis adalah jalur umum, bukan jalur orang-orang paling pintar (cumlaude), bukan jalur khusus seperti tes K2, GGD, putra putri asli Papua  atau jalur disabilitas. Jalur umum adalah kita yang biasa-biasa saja, tanpa perlakuan istimewa, kita yang fresh dari bangku sekolah/kuliah, sehingga saingannya banyak.  Dulu formasi yang dilamar penulis hanya 2, dibandingkan hampir 500 pendaftar formasi tersebut.

Modal utama penulis ketika mengikuti CPNS adalah keyakinan. Penulis yakin bahwa menjadi PNS harus dengan jalan mengikuti tes, tanpa tes mustahil untuk jadi PNS, karena peraturannya begitu.

Berusaha menepis semua yang menimbulkan keraguan, yang didengar dari orang bahwa tes CPNS hanya formalitas dan ada jalur belakangnya, ada jalan tolnya untuk yang punya orang dalam dan punya dana untuk menyogok.

Penulis yakin itu semua tidak ada, kalaupun ada tidak semua formasi akan diisi oleh orang yang melakukan kecurangan.

Bermodal keyakinan, penulis menjalani perjalanan panjang dari kota kelahiran menuju Bandara Juanda, kemudian terbang tinggi ke Bandara Syamsuddin Noor. Dari Syamsuddin Noor penulis naik taksi (angkutan antar kota) ke Kota Rantau, Ibu Kota Kabupaten Tapin. Tempat penulis mendaftar sebagai Abdi Negara.

Penulis sempat tidak dapat nomor antrian untuk mengumpul berkas, padahal hari itu kemungkinan sudah tidak dibagikan lagi nomor antrian.  Sempat hanya duduk-duduk melihat para pelamar lain sibuk mengumpulkan berkas, tiba-tiba ada seorang gadis berbahasa Banjar (saat itu penulis tidak begitu mengetahui apa yang dibicarakannya), sejurus kemudian dia memberikan selembar nomor antrian.

Penulis sebut ini keberuntungan, betapa tidak, sebelumnya penulis menanyakan kepada petugas, bahwa nomor antrian telah habis. Namun tiba-tiba, ada orang dengan cuma-cuma memberikan nomor antrian.

Setelah itu penulis mengumpulkan berkas. Petugas penerima berkas sangat ramah-ramah dan tidak ‘angker’. Dan tentunya mereka sangat teliti dalam mengecek kelengkapan berkas. Selesai urusan mengumpul berkas pendaftaran penulis hari berikutnya memutuskan pulang ke Jawa, kali ini menujui bandara Adi Sucipto, Jogja.

Sebulan kemudian penulis dinyatakan lolos administrasi, sehingga namanya tercantum dalam peserta tes CPNS. Pengalaman pertama, tentu hal seperti ini sangat membahagiakan.

Gaji sebagai tenaga honor di Jawa yang tidak seberapa (saat itu) penulis sisihkan untuk infaqkan di Masjid. Penulis yakin, bahwa untuk mendapatkan rezeki yang halal, perlu adanya pancingan (investasi) dalam bentuk infaq atau zakat atau sedekah.

Sebelum berangkat penulis minta izin kepada kedua orang tua. Minta do’a restu, agar perjalanannya dimudahkan. Ya tentu sambil curhat, bahwa menjadi PNS (Guru) merupakan usaha dari penulis memenuhi harapan dan cita-cita dari Ibu tercinta.

Penulis juga masih ingat, satu-satunya persiapan (latihan soal) untuk tes CPNS adalah dengan membaca sebuah artikel yang membahas tentang perubahan pola pikir. Artikel tersebut juga sempat dibagikan kepada salah satu teman, yang pada saat yang sama mengikuti tes CPNS di Bengkulu. Alhamdulillah, meskipun ini kali pertama kami mengikuti tes CPNS, kami berdua lolos.

Saat itu nilai tes penulis adalah 433 (kalau tidak salah ingat), ya memang sih tesnya masih paper based test belum pakai CAT dan nilai itu belum seberapa jika dibanding yang lain.

Setau penulis, rekor tes CPNS yang hampir mencapai nilai maksimal 500 (hampir benar semua) dipegang peserta yang saat ini ditugaskan menjadi salah satu admin Medsos BKN.

Penulis saat tes CPNS berada di ruangan kelas SD di salah satu sudut kota Rantau. Kebetulan tidak ada kenalan dalam satu ruangan tersebut, sehingga penulis bisa fokus mengerjakan.

Penulis juga memiliki modal, senang mengerjakan soal tes (tes apapun) dan tentu penulis juga sangat tenang selama tes, bahkan kalau bisa setiap tes penulis memilih duduk paling depan, apapun hasilnya, mau belajar atau tidak, duduk di depan saat tes adalah kegemaran penulis.

Duduk paling depan saat tes membuat kita tidak mengalami gangguan mental, seperti ingin menyontek, atau ingin melihat jawaban peserta lain.

Masalah utama warga +62, ketidak percayaan diri saat ujian. Dengan dalih “posisi menentukan prestasi” setiap siswa atau mahasiswa paling suka duduk di belakang saat tes. Penulis bersyukur tidak memiliki mental seperti itu.

Soal tes CPNS selain perlu kecermatan dan ketelitian, serta analisis yang mendalam juga memerlukan manajemen waktu saat mengerjakan.

Kerjakan soal dari yang mudah, ke yang sedang baru yang susah. Jangan habiskan waktu memikirkan soal yang kalian sama sekali tidak tau caranya, tidak hafal materinya, tidak dapat analisisnya. Itu sama artinya memikirkan mantan, tidak berfaedah.

Baca semua soal dari nomor 1 sampai terakhir (mungkin 100). Soal yang mudah langsung dijawab, soal yang sedang ingat-ingat nomornya, soal yang susah kerjakan paling akhir.

Setelah itu pasrahkan semua kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. PNS bukan satu-satunya jalan menjadi Abdi Negara, bukan satu-satunya ladang rezeki dan pahala.

Selamat berjuang para sahabat PendidikanGeosain.id untuk menghadapi tes CPNS 2020.