Merdeka Belajar

LATIHAN MEMBUAT ASESMEN KOMPETENSI MINIMAL (AKM) DI SAAT COVID-19 MELANDA

Gambar Perkembangan Kasus Covid-19 di Kalimantan Selatan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, tahun 2020 akan menjadi tahun terakhir pelaksanaan ujian nasional (UN). UN pada tahun 2021 akan diganti dengan Asesmen (Penilaian) Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

Asesmen tersebut tidak dilakukan berdasarkan mata pelajaran atau penguasaan materi kurikulum seperti yang selama ini diterapkan dalam ujian nasional, melainkan melakukan pemetaan terhadap dua kompetensi minimum siswa, yakni dalam hal literasi dan numerasi.

Langkah Mendikbud ini ternyata didukung alam semesta (mestakung) dengan adanya pandemi Covid-19. Pandemi tersebut membuat UN 2020 pun ditiadakan. Setahun lebih awal dari rencana Mas Menteri.

Tantangan bagi seorang guru boleh dibilang tidak lebih ringan. Menyiapkan siswa menghadapi UN berat, untuk menghadapi AKM juga tidak ringan. Ini termasuk belum terbiasanya kita dalam hal literasi, numerik, dan tentunya karakter.

Seorang di tempat yang baru dikunjungi, seperti bandara, terminal, atau stasiun atau mal, biasanya memilih untuk bertanya kepada security atau pengunjung lain untuk mengetahui letak toilet. Kebanyakan dari kita lebih suka bertanya, dibanding membaca petunjuk arah yang banyak tersebar dan bisa menuntun kita ke toilet. Ini hanya contoh kecil saja, rendahnya literasi yang kita miliki, dengan kata lain kita bangsa yang enggan membaca.

Apa Itu Asesmen?

Asesmen merupakan kegiatan untuk mengungkapkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Banyak yang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi (evaluation), penilaian (assessment), pengukuran (measurement), dan tes (test), padahal keempatnya memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda.

Evaluasi adalah kegiatan mengidentifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement).

Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa.

Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif dan nilai kuantitatif. Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. Hubungan antara berbagai istilah tersebut adalah sebagai berikut.

Gambar 1. Asesmen

Bagaimana Menyusun Soal AKM?

Soal AKM yang disusun ini berdasarkan materi pelajaran dan berusaha untuk memasukkan unsur literasi, numerik dan karakter. Soal dapat dilihat di https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSezQNGPL-IRO4XNqdhF5Jsi-ndhM7tzvxu1TI_vcL7FSSsRUw/viewform

Sebelum memberikan soal, tentunya juga disiapkan materi. Materi disediakan dalam bentuk PDF. Dalam materi tersebut berisi peta, data kasus Covid-19, dan materi mengenai Covid-19.

Soal dan materi ini berkaitan dengan pemetaan dan Covid-19. Dalam situasi seperti sekarang ini, kita tidak bisa hanya mengajarkan dan melakukan asesmen mengenai materi pelajaran dalam bentuk kompetensi dasar saja. Perlu usaha kontekstual untuk mengkaitkan dengan  kasus yang sekarang menjadi tantangan buat siswa dan masayarakat. Ini mungkin juga bisa dimanfaatkan sebagai dasar membuat AKM yang berisi tes literasi, numerik, serta karakter.

Hasil Uji Coba AKM

Gambar 2. Cara Mencegah Corona

Soal pertama berkaitan dengan karakter dan literasi, siswa yang sudah diberikan materi tentang cara mencegah dari tertular Covid-19, ternyata masih belum memuasakan dalam menjawab pertanyaan nomor 1.

Soal kedua tentang karakter hidup sehat. Kita harus mengakui bahwa dunia pendidkan kita belum maksimal memberikan pembelajaran mengenai hidup sehat.

Soal ketiga merupakan bentuk literasi dan numerik. Literasi mengenai kemampuan siswa dalam membaca data dan peta. Serta numerik berkaitan dengan angka ODP Covid-19. 72,4 % menjawab dengan tepat, sedangkan sisanya masih belum mampu memahami cara membaca data.

Gambar 3. Pemahaman Siswa Tentang Data ODP

Soal keempat mengenai kemampuan numerik, siswa diminta membandingkan data kasus PDP dan Positif (konfirmasi) Covidd-19 di Provinsi Kalimantan Selatan. Dari perbandingan angka tersebut siswa diminta memilih grafik yang menunjukkan data angka yang benar. Tenyata hanya 41,4% siswa yang mampu menjawab dengan benar.

Gambar 4. Persentase Jawaban Siswa Pada Soal 4

Soal nomor lima tentang materi pemetaan. Ini tidak berkaitan dengan AKM, tapi berkaitan dengan kompetensi dasar.

Soal keenam siswa sudah dibawa untuk berpikir kritis. Dari data yang mereka baca, mereka diminta untuk memberi masukan mengenai kemungkinan Kalimantan Selatan untuk lockdown (karantina wilayah).

Gambar 5. Persantase Tanggapan Siswa Tentang Perlu Tidaknya Karantina Wilayah

Soal kedelapan meminta siswa untuk memberikan alasan mengapa mereka menyarankan untuk melakukan Karantina Wilayah. Soal ini dapat dijawab secara baik oleh siswa, jika mereka mengikuti perkembangan terakhir mengenai Covid-19 dari berbagai sumber. Siswa yang tidak terbiasa membaca perkembangan kasus ini, menjawab dengan singkat dan tidak memuaskan, seperti “tidak, karena tidak suka adanya karantina wilayah”.

Soal kesembilan mengenai karakter siswa. Ini berkaitan dengan olah rasa, atau afektif siswa. Dengan adanya Covid-19 ini bagaimana tingkat kekhawatiran mereka.

Gambar 6. Persentase Tingkat Kekhawatiran Siswa

Soal kesepuluh siswa diminta untuk memberikan sumbangsih dari ilmu pengetahuan atau keterampilan yang mereka miliki (setelah belajar pemetaan) dalam menangani pandemi Covid-19. Siswa ternyata belum bisa mengungkapkan apa yang akan mereka perbuat. Ini kelemahan pendidikan kita. Selama ini siswa diminta hanya menyelasaikan tugas dan ujian yang berbasis pada sesuatu yang tekstual. Guru dan otoritas pendidikan belum mampu menyiapkan pembelajaran yang kontekstual.

AKM yang telah coba dibuat ini setidaknya memberikan gambaran, bahwa membuat soal AKM tidak mudah. Literasi dan numerik juga sepertinya perlu lebih  digalakan. Terakhir, pendidikan kita (penulis) belum mampu menyiapkan generasi untuk menjawab (menyelesaikan) masalah secara kontekstual, masih sebatas tekstual sehingga gagap menghadapi problema.

Sepertinya tidak hanya pemerintah yang gagap menghadapi Covid-19 ini. Masyarakat pun juga, termasuk penulis sebagai guru. Saatnya kita belajar lebih giat lagi.

Membedah Merdeka Belajar Mas Menteri

Gambar. Cover Buku Freedom to Learn Karya Carl Rogers

Merdeka belajar sekarang sedang menjadi konsep utama dalam pendidikan di Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim merupakan orang pertama yang menyebarkan konsep ini di Indonesia.

Mendikbud yang ini, lebih suka dipanggil sebagai Mas Menteri. Selain milenial, dia juga sempat viral oleh surat edaran menyambut Hari Guru Nasional (HGN). Isi surat yang diluar dari kebiasaan menteri-menteri terdahulu, sangat ringkas, tidak bertele-tele.

Konsep merdeka belajar dijadikan mantra untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Ada Merdeka Belajar 1, yang ditujukan untuk pendidikan dasar dan menengah (sekolah). Ada Merdeka Belajar 2, untuk pendidikan tinggi (kampus).

Merdeka Belajar langsung jadi topik utama diberbagai media masa dan menjadi bahan diskusi  diantara para pemerhati dunia pendidikan. Konsep ini menimbulkan pro dan kontra. Ini wajar, karena digulirkan oleh Mas Menteri. Apalagi Kemendikbud merupakan ujung tombak dalam visi Presiden Jokowi, SDM Unggul Indonesia Maju.

Sebagai seorang lulusan Harvard University, Mas Menteri tentu banyak membaca literatur terbitan Amerika Serikat. Meskipun tidak kuliah pada jurusan pendidikan, Nadiem pasti membaca buku yang menjadi masterpiece buah karya ahli-ahli pendidikan. Teori pendidikan seperti behaviorisme, kontruktivisme, ataupun humanisme sudah barang tentu dipahami menteri yang sering tampil casual ini.

Merdeka Belajar dan Teori Humanisme

Merdeka belajar yang digaungkan oleh Nadiem mengingatkan kepada Buku Carl Ransom Rogers, yang berjudul Freedom to Learn. Sang penulis merupakan pionir dalam teori Humanisme.

Patut diduga pria berkacamata ini terinspirasi dari buku tersebut, atau pun dari Rogers. Buku tersebut melatar belakangi terbitnya buku-buku Carl Roger berikutnya yang berfokus pada learner-centered dan humanisme psikologi pendidikan.

Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata pemikiran Carl Roger dalam pendidikan memiliki lima prinsip utama. Prinsip-prinsip ini mungkin yang Mas Menteri jabarkan dalam kebijakan-kebijakannya.

Carl Roger yang seorang pencetus teori humanis dalam pendidikan sepertinya sangat menginsiprasi menteri kita. Ini didukung dengan jargon-jargon yang menteri keluarkan, salah satunya guru penggerak.

Prinsip-prinsip Merdeka Belajar

Prinsip pertama, seseorang tidak dapat mengajari orang lain secara langsung; seseorang hanya dapat memfasilitasi. Carl Roger yakin bahwa apa yang siswa lakukan lebih penting daripada yang guru lakukan.

Hal ini mungkin yang memberi Mas Menteri ide untuk menyederhanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Jadi fokus pembelajaran bukan pada RPP berlembar-lembar yang dibuat oleh guru, tapi pada aktivitas belajar yang dilakukan anak.

Prinsip guru sebagai fasilitator juga tersirat dalam pidato Mas Menteri pada Upacara Hari Guru Nasional (HGN) 2019. Guru tidak boleh dibebani tugas adminstratif yang belum tentu ada manfaatnya. Prinsip ini juga dipertegas poin pertama perubahan yang diharapkan mantan CEO GoJek ini, sebagai fasilitator guru dapat memfasilitasi anak berdiskusi, bukan sekedar mendengar.

Prinsip kedua, orang belajar hanya pada apa yang menurut mereka berguna bagi dirinya. Ini menjadi alasan mengapa relevansi materi pelajaran itu penting. Mas Menteri melaksanakan prinsip ini dengan cara mencoba merubah kurikulum perguruan tinggi melalui magang mahasiswa yang lebih lama, bahkan tiga semester.

Nadiem juga mendukung mahasiswa mengambil mata kuliah di luar bidang ilmunya. Mas Menteri berpikiran yang penting apa yang dipelajari mahasiswa berguna bagi mahasiswa itu sendiri.

Prinsip kedua ini juga mengkonfirmasi bahwa poin keempat yang disampaikan dalam pidato HGN. Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Bakat akan muncul jika mahasiswa (dan murid)  diberi kebebasan belajar apa yang mereka sukai dan yang ingin mereka coba.

Prinsip ketiga, pengalaman masa lalu akan berasimilasi dengan pengalaman masa sekarang dan membentuk pemahaman. Dari prinsip ini, Mas Menteri menghimbau penugasan secara portofolio serta menekankan pentingnya asesmen penalaran literasi dan numerik.  Hal ini karena penalaran literasi dan numerik akan lebih bermakna bagi siswa, daripada soal tes yang terkadang hanya ada umpan balik berupa benar dan salah dari guru.

Prinsip yang ketiga ini dipertegas dengan mengganti Ujian Nasional (UN) dengan asesmen kompetensi. Asesmen mengacu pada pada praktik baik, seperti PISA dan TIMSS. Selain itu, karakter juga dijadikan tolak ukur seorang murid.

Prinsip keempat, struktur organisasi diri akan lebih kaku jika pembelajaran di kelas dipenuhi dengan ancaman. Masih banyak kita temui di kelas-kelas dalam dunia pendidikan kita bahwa guru sering menggunakan ancaman untuk memaksa siswa mengikuti keinginan dari guru tersebut.

Mas Menteri mengeluarkan jargon Guru Penggerak, karena dia tahu bahwa dalam sekolah-sekolah tersebut pasti ada satu dua orang guru yang memiliki pandangan terbuka, dan mau diajak oleh siswa berdiskusi baik mengenai materi pelajaran ataupun peraturan-peraturan sekolah. Guru penggerak digunakan untuk membangun kepercayaan diri siswa, sehingga siswa berani berdiksusi dan memiliki pemikiran terbuka.

Prinsip kelima, situasi pendidikan paling efektif adalah (1) meminimalisir ancaman terhadap siswa dan (2) memfasilitasi perbedaan persepsi.

Banyak sekolah-sekolah yang mengikat siswa dengan aturan yang sangat banyak, dan bahkan tidak memberikan ruang kepada siswa untuk mengekpresikan persepsinya. Persepsi guru selalu benar, dan persepsi siswa selalu salah. Itu yang terjadi pada dunia pendidikan kita sampai saat ini. Mas Menteri berusaha mengikis kondisi yang demikian.

Hasil Merdeka Belajar

Lima prinsip yang telah disempaikan akan menghiasi kebijakan di Kemdikbud. Mas Menteri pasti sudah memikirkan dan menganalisis dampak apa yang ditimbulkan dari tiap-tiap kebijakan yang dibuatnya.

Apalagi dunia pendidikan, yang masih kita yakini sebagai salah satu jalan memperbaiki kondisi negara ini. Tentunya agar tidak ketinggalan dengan negara lain yang lebih maju.

Hasil dari merdeka belajar tidak dapat dilihat dalam waktu sekejap. Arah keberhasilan dari merdeka belajar setidaknya akan tampak pada peringkat PISA dan TIMSS pada tahun-tahun yang akan datang.