Filsafat Geosains

BELAJAR PENDEKATAN KOMPLEKS WILAYAH (REGIONAL COMPLEX APPROACH)

Setelah postingan sebelumnya kita belajar pendekatan keruangan dan pendekatan ekologis, kini saatnya kita belajar pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan ini tak lain merupakan integrasi dari pendekatan keruangan dan ekologis (Yunus, 2008). Holt-Jensen (2009) lebih memilih kata kombinasi daripada integrasi. Namun, kedua kata tersebut tidak memiliki perbedaan yang jauh.

Perlu digaris bawahi bahwa penggunaan istilah regional complex perlu disadari dan dipahami secara benar. Konsep ini menegaskan bahwa perlu adanya pemahaman mendalam tentang property di wilayah bersangkutan dan merupakan regional entity (Yunus, 2008).  Yang menjadi dasar dalam pendekatan ini ialah kompleksitas gejala dari eksistensi suatu wilayah, di samping  efek internalitas dan eskternalitas pada wilayah tersebut.

Letak utama dari unit analisis dalam pendekatan ini adalah perbedaan area (areal differentiations). Caranya ialah dengan membuat garis dan arus (lines and flow) dari masing-masing wilayah, selanjutnya dilakukan pengamatan (Holt-Jensen, 2009). Areal differentiations tiap-tiap satuan wilayah dapat diketahui dengan cara diidentifikasi.

Isitilah regional dan areal differentiations pertama kali dikenalkan oleh Hartshorne (1939), menyatakan bahwa geografi belajar tentang perbedaan wilayah. Inti dari geografi regional ialah mengenai kekhasan wilayah (unique places). Dalam bahasa yang dipakai Taaffe (1974) disebutnya “unique phenomena” (Dalam Khabazi, 2018)

Gambar 1. Contoh Regional Complex Transportasi Komuter di Amerika Serikat
Sumber: https://core.ac.uk/download/pdf/59922509.pdf

Langka Melakukan Pendekatan Kompleks Wilayah

Pertama, identifikasi unit area terkecil.

Kedua, mengamati bagaimana tiap-tiap area terhubung satu sama lain secara sistematis untuk memperoleh gambaran struktur dan fungsional masing-masing area yang lebih luas (sedang).

Ketiga, mengamati area sedang dengan area sedang yang lainnya untuk mengetahui bagaimana area-area tersebut membentuk suatu region (area luas).

Keempat, mengamati bagaimana area luas (region) dengan region lainnya dapat terhubung dan bagaimana pengaturannya (Khabazi, 2018).

Ukuran region tergantung topik (tema) penelitian yang dilakukan, dapat pula berwujud batasan fisik DAS (Daerah Aliran Sungai) ataupun batasan non fisik yang dibuat berdasarkan kriteria tertentu.

Gambar 3. Contoh Region di Daerah Chengdu, China (Topik Industrial) Sumber: https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215656
Gambar 4. Contoh Region di Chengdu, China (Topik Commercial) https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215656

Daftar Pustaka:

Holt-Jensen, A. 2009. Geography History and Concepts : A Student’s Guide. London: SAGE

Khabazi, M. 2018. Regional Geography and Quantitative Geography: Compare and Contrast

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.

BELAJAR PENDEKATAN KELINGKUNGAN (ECOLOGICAL APPROACH)

Gambar 1. Contoh Penerapan Pendekatan Ekologi
Sumber: https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215796

Sebelum kita mempelajari pendekatan ekologi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tentang ekologi. Istilah ekologi mempunyai arti ilmu yang mempelajari keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya (Worster, 1977).

Dalam perkembangannya ilmu ekologi terbagi menjadi tiga arah (fokus) (Yunus, 2008). Pertama, fokus pada analisis kerterkaitan atau interaksi antar organisme dan juga dengan lingkungan biotik dan abiotiknya serta bagaimana akibat yang ditimbulkannya. Kedua, fokus pada scientific ecology (sub disiplin biologi). Ketiga, berkaitan dengan masalah politik dan kebijakan publik, serta dikaitkan dengan norma-norma yang berkembang di masyarakat.

Geografiawan harus membatasi dirinya dalam melakukan analisis ekologi, karena keterbatasan akademik yang dipunyai ilmu Geografi. Diharapkan geografiawan tidak terjebak dalam “scientific ecology” karena itu bukan ranahnya.

Sebagai contoh, geografiawan tidak perlu dan tidak akan mampu menjawab rumusan masalah “Mengapa populasi badak di Ujung Kulon menurun?” pertanyaan semacam ini cocok dijawab oleh ahli scientific ecology, karena modal pengetahuan yang mereka miliki mumpuni.

Pendekatan ekologi seperti apa yang cocok dalam disiplin geografi?

Perlu diingat bahwa geografi merupakan ilmu yang “human oriented” dalam konsep tersebut mengandung makna bahwa manusia dan kegiatan manusia selalu menjadi fokus analisis dalam keterkaitanya dengan lingkungan biotik, abiotik, maupun lingkungan sosial, ekonomi, ataupun kulturlnya (Dangan and Troop, 1995).

Manusia dalam hal tersebut di atas tidak boleh diartikan sebagai makhluk hidup semata yang sama dengan makhluk hidup lainnya (hewan dan tumbuhan), namun manusia diartikan sebagai sosok yang dikaruniai daya cipta, rasa, karsa, dan karya (Makhluk yang berbudi daya) (Yunus, 2008).

Jadi pendekatan ekologi yang dimaksud dalam ilmu geografi ialah analisis mengenai interelasi antara manusia dan atau kegiatannya dengan lingkungan(Yunus, 2008). Dalam analisis ini yang dipelajari adalah hubungan dalam wilayah geografis tertentu (ruang), bukan variasi spasial antar wilayah (Holt-Jensen, 2009).

Jika pendekatan spasial memiliki sembilan tema, maka pendekatan ekologi memiliki empat tema, yaitu;

Human behaviour – environment theme of analysis

Human activity (performance) – environment theme of analysis

Physico natural features (performance) – environment theme of analysis

Physico features (performance) – environment theme of analysis

Sama dengan tema yang ada pada pendekatan spasial, seorang geografiawan tidak harus menggunakan keempat tema yang ada dalam menelaah suatu fenomena geosfer.

Tema Human behaviour – environment theme of analysis

Analisis dalam tema ini berfokus pada perilaku manusia, baik perilaku sosial, perilaku ekonomi, perilaku kultural dan bahkan perilaku politik, baik manusia sebagai individu atau komunitas tertentu.

Contoh, ada masyarakat di daerah dekat hutan lindung yang selalu menebangi kayu pada hutan lindung. Dengan tema Human behaviour – environment theme of analysis analisisnya akan berupaya mencari jawaban mengenai apa latar belakang hal tersebut, bagaimana prosesnya, apa dampak yang ditimbulkan, serta bagaimana mengatasinya.

Gambar 2. Berladang
Sumber: https://nasional.kontan.co.id/news/menjaga-tradisi-berladang-sungai-utik

Tema Human activity (performance) – environment theme of analysis

Analisis dalam tema ini ditekankan pada kinerja dari bentuk-bentuk kegiatan manusia. Jadi kegiatan manusialah yang menjadi fokus pada tema ini. Jika tema pertama tadi menyangkut attitude, maka pada tema ini berkaitan dengan external performance.

 Kegiatan terkait dengan tindakan manusia dalam dalam menyelenggarakan kehidupan sedimikian rupa, seperti kegiatan pertanian, pertambangan, industri, perumahan, pariwisata, dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku berkaitan dengan sifat batiniah dan persepsi.

Contoh, negara maju melakukan kegiatan pertanian secara modern dan menjadikan negara tersebut sebagai eksportir produk pertanian (Amerika Serikat dengan apel dan jeruk), sedangkan pertanian di negara berkembang tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya sehingga perlu impor (Indonesia impor jagung).

Analisis dalam tema ini jika digunakan untuk menguraikan fenomena di atas ialah dengan cara mengungkapkan faktor-faktor internal (yang berkaitan dengan pertanian) dan faktor-faktor eksternal (yang merupakan elemen-elemen lingkungan) selanjutnya dilakukan analisis mendalam. Model penelitian SWOT, dapat diterapkan pada fenomena seperti ini.

Gambar 3. Pertanian di Negara Maju
Sumber: https://nttbangkit.com/belajar-dari-kemajuan-jepang-jadi-raksasa-industri-pertanian-paling-unggul-di-dunia/

Tema Physico natural features (performance) – environment theme of analysis

Analisis ini menekankan pada keterkaitan antara kenampakan fisik alami dengan elemen-elemen lingkungannya.

Contoh, sebuah sungai menunjukkan adanya polusi air yang mengakibatkan banyak ikan (biota) di sungai tersebut mati. Gejala menurunya kualitas sungai dapat ditelusuri dengan menganalisis faktor internal (sungai itu sendiri) seperti pH airnya, kandungan polutan dalam air dan lain sebagainya, dikaitkan dengan faktor eksternal (yang ditimbulkan manusia  yang hidup disekitar sungai) dalam hal ini berkaitan dengan penggunaan lahan di sekitar sungai, industri yang membuang limbah ke sungai, dan lain sebagainya.

Penelitian tersebut diharapkan dapat menemukan jawaban, mengapa terjadi penurunan kualitas sungai, seorang geografiawan juga dituntut mampu mencari solusi secara preventif, kuratif dan inovatif untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memberi saran kepada masyarakat yang ada disekitaran sungai.

Gambar 4. Tercemarnya Air Sungai Mengakibatkan Ikan Mati
Sumber: https://news.harianjogja.com/read/2018/07/22/500/929412/diduga-tercemar-limbah-pabrik-puluhan-ikan-di-mukomuko-mati

Tema Physico features (performance) – environment theme of analysis

Analisis ini menekankan mengenai keterkaitan antara kenampakan fisik budayawi (buatan manusia) dengan elemen lingkungan dimana obyek kajian berada.

Contoh, suatu daerah permukiman tertentu yang semula tidak terjadi penggenangan namun pada akhir-akhir ini terjadi penggenangan sehingga mengakibatkan terjadinya deteriorisasi lingkungan yang hebat. Kompleks permukiman merupakan bentukan artifisial yang bersifat fisikal. Dalam hal ini peneliti dapat bertitik tolak dari faktor-faktor internal (permukiman itu sendiri) dan juga faktor-faktor eksternal (di luar permukiman tersebut) yang diperkirakan mempunyai keterkaitan erat dengan munculnya penggenangan.

Apakah terdapat perubahan iklim khususnys curah hujan, perubahan alur sungai, kondisi laut, kerusakan hutan, penambahan luas pengerasan permukaan tanah yang berakibat bertambahnya run off, hilangnya kantong-kantong penampung air karena faktor alami atau faktor non alami (kebijakan pembangunan yang salah) dan lain sebagainya. Dengan meneliti keterkaitan antara permukiman dan faktor-faktor lingkungannya dapat diketahui penyebab utamanya dan sekaligus geografiwan akan mampu memberikan masukan tentang berbagai alternatif pemecahannya.

Gambar 5. Pembangunan Yang Tidak Memperhatikan Daya Dukung Lingkungan  Menyebabkan Banjir
Sumber: http://terra-image.com/banjir-balkan-dari-citra-satelit/

Daftar Pustaka:

Dangana, L and Tropp, C. 1995. “Human Ecology and and Environmental Ethics”. In M.Archia and S.Tropp (eds.) Environmental Management: Issues and Solution. Chichester: John Wiley and Sons.

Holt-Jensen, A. 2009. Geography History and Concepts : A Student’s Guide. London: SAGE

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.

Worster, D. 1977. Nature’s Economy: A History of Ecological Ideas. Cambridge: Cambridge University Press

BELAJAR PENDEKATAN KERUANGAN (SPATIAL APPROACH)

Bab I Geografi SMA Kelas X antara lain berisi materi Pendekatan Geografi. Materi ini masih sangat debatable (sering menimbulkan perdebatan) di internal geografiawan. Guru geografi pun masih banyak yang limbung dan linglung jikalau ditanya siswa atau kolega mengenai ketiga pendekatan ini. Dalam pencak silat, Pendekatan Geografi seperti halnya kuda-kuda. Jadi harus kuat.

Bahkan soal Ujian Nasional, sebelum UN ditiadakan hampir dipastikan (100%) materi pendekatan geografi muncul, dan banyak siswa yang salah menjawab. Ketika guru geografi membahasnya dalam MGMP ataupun melalui media lain semacam grub WA, juga sering berbeda jawaban.

Permasalahan semacam ini mungkin yang menjadi keprihatinan Prof Hadi Sabari Yunus, dengan mengibaratkan dalam kalimat “adverse negative impact.

Pendekatan Geografi yang ada tiga (spatial, ecological, regional complec approach) merupakan fitrah ilmu geografi (Yunus, 2008). Yang harus dijiwai setiap geografiawan, agar peran ilmu geografi tidak semakin termarginalkan. Pada perkembangannya ketiga pendekatan itu dapat tarik menarik.

Perlu digaris bawahi bahwa pendekatan merupakan suatu metode analisis (pisau analisis) dalam menelaah sebuah fenomena.

Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai pendekatan keruangan.

Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)

Pendekatan ini menekankan analisisnya pada eksistensi ruang (space) sebagai wadah untuk mengakomodasi kegiatan manusia dalam menjelaskan fenomena geosfer (Yunus, 2008).

Pendekatan geografi berkaitan erat dengan objek kajian geografi yang berupa geospheric phenomena (fenomena geosfer), maka segala sesuatunya dalam objek tersebut dapat diamati dengan menggunakan sembilan matra (tema).

Kesembilan matra tersebut ialah (1) pola (pattern); (2) struktur (structure); (3) proses (process); (4) interaksi (interaction); (5) organisasi dalam sistem keruangan (organisation within spatial system); (6) asosiasi (association); (7) tendensi atau kecenderungan (tendencies or trends); (8) pembandingan (comparation); dan (9) sinergisme keruangan (spatial synergism).

Dengan demikian dapat dikembangan sembilan pendekatan keruangan (spatial approach)

(1) spatial pattern analysis;

(2) spatial structure analysis;

(3) spatial process analysis;

(4) spatial interaction analsis;

(5) spatial association analysis;

(6) spatial organisation analysis;

(7) spatial tendency/trends analysis;

(8) spatial comparison analysis;

(9) spatial synergism analysis.

Seorang geografiawan tidak harus melaksanakan sembilan tema tersebut secara bersamaan, karena sebagai manusia kita memiliki keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Memilih satu atau beberapa tema, serta menjelaskan operasionalisasi pendekatannya sangat dimungkinkan dan tidak mengurangi kadar keilmuannya.

Spatial Pattern Analysis

Penekanan utama dari analisis ini adalah sebaran pada elemen-elemen pembentuk ruang. Tahap awal dari analisis ini berupa identifikasi, selanjutnya menjawab geographic questions (pertanyaan geografi) berupa 5W+1H.

What: Fenomena apa yang diteliti?

Where: Dimana fenomena tersebut terjadi?

When: Kapan kenampakan fenomena tersebut ada?

Why: Mengapa terjadi penampakan seperti itu?

Who: Siapa yang mendiami?

How: Bagaimana proses pengelompokan tersebut dapat terjadi?

Uraian yang mengemukakan mengenai jawaban 5W+1H ini harus tercermin dalam daftar isi makalah yang dibuata oleh geografiawan. Kedalaman analisis akan terlihat dari penekanan jawaban yang dimunculkan.

Gambar 2. Pola Permukiman yang Unik di Brondby Haveby Denmark
Sumber: https://unusualplaces.org/inner-circles-circular-gardens-of-brondby-haveby-denmark/

Spatial Structure Analysis

Analisis ini bertumpu pada susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Struktur keruangan dapat berupa fenomena fisikal dan non fisikal. Sebagai contoh daerah agraris, dengan pemanfaatan 75% lahan untuk pertanian, dan 25% untuk lainnya. Untuk memperdalam analisis ini dapat digunakan pertanyaan why, who, dan how. Namun jika hanya ingin mengetahuai deskripsinya, dapat digunakan pertanyaan what, when, dan where.

Gambar 2. Fenomena Fisikal dan Non Fisikal
Sumber: http://asmireland.ie/wp-content/uploads/2012/04/Farm-map-overview.jpg

Spatial Proses Analysis

Analisis ini menekankan pada proses keruangan yang biasanya divisualisasikan pada perubahan ruang. Perubahan tesebut dapat dikemukakan secara kuantitatif dan kualitatif. Setiap perubahan tidak dapat dilepaskan dari waktu kejadiannya, sehingga aspek temporal menjadi peranan utama dalam analisis ini (Yunus, 2008).

Memandingkan sebuah kota atau wilayah pada tahun 1990 dan tahun 2000 tentang perubahan bentang lahannya merupakan contoh fenomena geofer yang dapat dianalisis dengan tema ini. Diperlukan foto udara, ataupun citra satelit multi-temporal untuk fenomena ini. Analsis lebih lanjut dari fenomena temporan dapat dikembangkan dengan menjawab pertanyaan, bagaimana perubahan itu terjadi dan dampak apa saja yang mungkin timbul dari perubahan tersebut?

Gambar 3. Perbandingan Laut Aral dari Tahun 1990, 2000, dan 2010
Sumber: https://www.alamy.com/stock-photo/aral-sea-satellite.html

Spatial Interaction Analysis

Analisis dengan tema ini menekankan pada interaksi antar ruang. Hubungan timbal balik antara ruang yang satu dengan yang lain mempunyai variasi yang sangat besar, sehingga upaya-upaya mengenali faktor pengontrol interaksi menjadi sedemikian penting. Analisis lebih lanjut dengan berusaha menjawab pertanyaan mengapa terjadi interaksi dan bagaimana interaksi terjadi?

Gambar 4A. Pembagian Wilayah China Selatan dan China Utara untuk Analisis Interaksi Spasial Sumber: Sumber: https://www.mdpi.com/2220-9964/9/2/68/htm
Gambar 4B. Interaksi Budaya China Utara dan Selatan
Sumber: https://www.mdpi.com/2220-9964/9/2/68/htm

Spatial Organization Analysis

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen lingkungan mana yang berpengaruh terhadap terciptanya tatanan spesifik dari elemen-elemen pembentuk ruang. Penekanan utamnya pada keterkaitan kenampakan yang satu dengan yang lain secara individu. Perbedaan antara analisis ini dengan analisis pola adalah pada analisis pola kekhasan aglomerasi menjadi kunci, sedangkan pada analisis organisasi hubungan dan hirarkhi antar elemen menjadi faktor utama.

Spatial Association Analysis

Analisis ini bertujuan untuk mengungkapkan terjadinya asosiasi keruangan antar berbagai kenampakan pada suatu ruang. Untuk mengetahui ada atau tidaknya asosiasi keruangan antar variabel satu dengan lainnya dapat dilakukan dengan menganalisis visualisasi peta dan dengan metode analisis statistik. Apakah ada asosiasi keruangan antara kepadatan penduduk dengan peningkatan tindak kriminal di beberapa tempat di kota?

Gambar 6. Peta Kepadatan Penduduk California dan Peta Rerata Kriminalitas di California Sumber: http://www.geocurrents.info/tag/crime-and-population-density#gallery/0/

Spatial Tendency/Trends Analysis

Analisis ini menekankan upaya mengetahui kecenderungan perubahan suatu gejala. Pertanyaan seperti ke arah manakah perkembangan Kota Surakarta? Merupakan salah satu contoh fenomena geosfer yang harus dijelaskan dengan analisis ini. Ya memang benar analisis ini merupakan kelanjutan dari tema analisis sebelumnya, seperti spatial pattern analysis, sapatial structure, spatial process, dan spatial asociation. Membaca trend perekembanganfenomena geosfer seperti perkembangan permukiman disarankan menggunakan analisis ini.

Spatial Comparison Analysis

Analisis ini mempunyai tujuan untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan suatu ruang dibandingkan dengan ruang lainnya. Studi banding merupakan salah satu contoh kegiatan dalam analisis semacam ini. Fenomena terbaru ialah pemilihan Ibukota di Indonesia baru-baru ini, dari ketiga calon ibu kota, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Dipilihlah Kalimantan Timur sebagai letak Ibukota negara Indonesia yang baru, berdasarkan berbagai aspek multi disiplin keilmuan.

Gambar 8.A Postingan Presiden Jokowi Mengenai Tiga Calon Ibu Kota Negara di Instagram Sumber: https://regional.kompas.com/read/2019/08/09/17411841/ini-alasan-lokasi-lahan-ibu-kota-baru-di-kalsel-masih-dirahasiakan

Spatial Synergism Analysis

Analisis ini akan sangat berguna untuk merencanakan, mengaplikasikan dan mengevaluasi konsep pembangunan kerja sama antar wilayah, seperti Jabodetabek, Joglosemar, Kartamantul, Gerbang Kertasusila, Banjarbakula dan lain sebagainya. Selama ini kerja sama antar wilayah masih sekedar penamaan, belum mengintegrasikan visi antar wilayah, sehingga terkesan masing-masing wilayah berjalan sendiri-sendiri.

Belajar pendekatan spasial memang tidak bisa dilepaskan dari peta. Ruang (space) memang lebih mudah dipelajari dengan peta. Jadi jika kalian sedang belajar geografi, jangan lupakan peta. Seperti pada Kartun Dora The Explorer.

Daftar Pustaka:

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.

Apa itu Geosains?

Apa itu Geosains?
Menikmati keindahan Bumi
sumber: https://geosciences.tamu.edu/about/about-the-college/index.html

Geosains masih sangat asing di telinga masyarakat Indonesia. Masyarakat lebih mengenal geografi ataupun geologi. Geosains, padahal di awal kemerdekaan sangat familiar oleh masyarakat Indonesia di awal kemerdekaan sampai tahun 80’an dengan nama Ilmu Bumi. Coba tanya Bapak, Ibu atau Kakek Nenek kita, pasti lebih mengenal istilah Ilmu Bumi dibandingkan dengan geografi, geologi apalagi geosains.

Ilmu kebumian atau ilmu bumi (bahasa Inggrisearth science, geoscience) adalah suatu istilah untuk kumpulan cabang-cabang ilmu yang mempelajari bumi. Cabang ilmu ini menggunakan gabungan ilmu fisikageografi, geologi, matematikakimia, dan biologi untuk membentuk suatu pengertian kuantitatif dari model lapisan-lapisan Bumi.

            Salah satu (mungkin satu-satunya di Indonesia) universitas yang sudah membuka Jurusan Geosains ialah Universitas Indonesia (UI) di tahun 2015. Dalam jurusan tersebut terdapat dua buah Program Studi (Prodi), yakni  Prodi Geologi dan Prodi Geofisika. Jurusan ini dibawah naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI.

FMIPA UI juga memiliki jurusan yang berkaitan dengan cabang geosains lain, yakni geografi. Meskipun terpisah, Jurusan Geografi sebenarnya yang fokus utamnya mengenai ilmu geografi juga merupakan bagian dari geosains. Namun, geosains di UI fokus pada ilmu dasar dalam hal pertambangan dan perminyakan.

            Salah satu Universitas di Amerika Serikat, yaitu Texas A & M University (TAMU) menjadikan geosain sebagai sebuah fakultas/college tersendiri dengan nama The College of Geosciences. Dalam fakultas ini terdapat empat jurusan, yaitu; Ilmu Atmosfer, Geografi, Geologi dan Geofisika, serta Oseanografi. Fokus fakultas ini ialah memberikan solusi terhadap tantangan besar dunia saat ini; perubahan iklim global, kualitas air dan udara, energi terbarukan dan ketersediaan bahan makanan.

            Dalam blog pendidikangeosains.id, geosains akan difokuskan mengenai konten materi yang berkaitan dengan geologi dan geografi. Hal ini berkaitan dengan Bagaimana geosain dapat dipelajari dan diajarkan pada siswa maupun mahasiswa?

Bahan Bacaan:

  1. Vasconcelos, Clara. 2016. Geoscience Education: Indoor and Outdoor. Switzerland: Springer
  2. https://www.anakui.com/geosains-program-studi-junior-di-fmipa-yang-mirip-mirip-ilmu-perminyakan-dan-pertambangan/#.XOP3sCAzZ0w diakses 21 Mei 2019.
  3. https://geosciences.tamu.edu/about/about-the-college/index.html diakses 21 Mei 2019