Belajar Mendeskripsikan Batuan Beku

  1. Pengerian Batuan Beku

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, “api”) adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

  • Deskripsi Batuan Beku
  • Warna

Dalam deskripsi batuan beku, yang pertama kali dilihat adalah warna.  Dari warna tersbebut dapat menentukan komposisi kimia suatu batuan. Warna pada batuan beku setidaknya ada empat, yaitu; (1) warna cerah, ini menunjukkan bahwa batuan beku tersebut bersifat asam; (2) warna gelap-hitam, warna ini menunjukkan batuan beku bersifat interemdiet (tengah); (3) warna hitam kehijauan, sifat kimia dari batuan seperti ini ialah basa; dan (4) warna hijau kelam, dengan warna ini batuan beku bersifat ultra basa.

Sifat kimia dari batuan beku adalah sifat yang berdasarkan kandungan SiO2 sebagai berikut;

  1. Batuan beku asam (acid), kandungan SiO2 > 65%, contohnya Granit, Ryolit.
  2. Batuan beku menengah (intermediat), kandungan SiO2 65% – 52%. Contohnya Diorit, Andesit
  3. Batuan beku basa (basic), kandungan SiO2 52% – 45%, contohnya Gabbro, Basalt
  4. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan SiO2 < 30%

Gambar 2. Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Komposisi Kimia

Struktur

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung di permukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagai struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya:

  1. Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam.

Gambar 3. Batuan Beku Struktur Masif

  • Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan.

Gambar 4. Struktur Batuan Beku Sheeting Joint

  • Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti batang pensil.

Gambar 5. Struktur Batuan Beku Columnar Joint

  • Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-gumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air.

Gambar 6. Struktur Batuan Beku Pillow Lava

  • Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan.

Gambar 7. Struktur Batuan Beku Vesikular

  • Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti kalsit, kuarsa atau zeolit

Gambar 8. Struktur Batuan Beku Amigdaloidal

  • Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu akibat aliran

Gambar 9. Struktur Batuan Beku Aliran

  • Tekstur

Magma merupakan larutan yang kompleks. Karena terjadi penurunan temperatur, perubahan tekanan dan perubahan dalam komposisi, larutan magma ini mengalami kristalisasi. Perbedaan kombinasi hal-hal tersebut pada saat pembekuan magma mengakibatkan terbentuknya batuan yang memilki tekstur yang berbeda. Ketika batuan beku membeku pada keadaan temperatur dan tekanan yang tinggi di bawah permukaan dengan waktu pembekuan cukup lama maka mineral-mineral penyusunya memiliki waktu untuk membentuk sistem kristal tertentu dengan ukuran mineral yang relatif besar. Sedangkan pada kondisi pembekuan dengan temperatur dan tekanan permukaan yang rendah, mineral-mineral penyusun batuan beku tidak sempat membentuk sistem kristal tertentu, sehingga terbentuklah gelas (obsidian) yang tidak memiliki sistem kristal, dan mineral yang terbentuk biasanya berukuran relatif kecil. Berdasarkan hal di atas tekstur batuan beku dapat dibedakan berdasarkan:

  1. Granulitas/Besar ButirPhaneritic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhmya tersusun oleh mineral-mineral yang berukuran kasar.

Gambar 10. Tekstur Batuan Beku Phaneritic

  • Aphanitic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh mineral berukuran halus.

Gambar 11. Tekstur Batuan Beku Aphanitic

  • Derajat Kristalisasi
  • Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh kristal

Gambar 12. Tekstur Batuan Beku Holokristalin

  • Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas

Gambar 13. Tekstur Batuan Beku Hipokristalin

  • Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh gelas

Gambar 14. Tekstur Batuan Beku Holohyalin

  • Keseragaman Butir
  • Equigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya hampir sama.

Gambar 15. Tekstur Batuan Beku Equigranular

  • Inequigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya tidak sama.

Gambar 16. Tekstur Batuan Beku Inequigranular

  • Komposisi Minieral

Gambar 17. Klasifikasi Batuan Beku

Berdasarkan Komposisi Mineral