Dwi Angga Oktavianto

Sahabatnya siswa dalam belajar Ilmu Kebumian di sebuah SMK Geologi Pertambangan di Pulau Borneo

GOOGLE EARTH MEDIA DALAM BELAJAR GEOLOGI

Gambar 1. Citra Google Earth
Formasi Kerek
(Sumber: Salahuddin Husein)

Bila beruntung, dan geolog di lapangan sangat membutuhkan keberuntungan, kerapkali lokasi fieldwork kita secara kebetulan didukung oleh citra satelit Google Earth yang terlihat dengan jelas, dan tentunya gratis.

Kali ini yang dikunjungi untuk melakukan fieldwork ialah Formasi Kerek berumur Miosen Tengah yang tersingkap di dasar Kali Bancak, Grobogan. Kunjungan ini hanya berselang dua bulan dari rilis citra satelit terbaru dari Google Earth.

Pada citra tersebut, terlihat jelas: (1) pelamparan lapisan, (2) orientasi kemiringan perlapisan, (3) penebalan dan penipisan perlapisan, (4) potong-memotong perlapisan saat sedimentasi, dan (5) offset sesar geser serta kelurusannya.

Kelima informasi geologi yang sangat berharga tersebut bisa dianalisis sambil minum es teh di warung dekat pinggir kali, sebelum melihat batuannya secara langsung.

Setidaknya kita sudah mengantisipasi bahwa sebentar lagi akan mengunjungi fenomena geologi yang dahulu kala berupa kipas-kipas dasar laut dalam, yang terletak di belakang busur Jawa saat itu.

Gambar 2. Ilustrasi Kipas Dasar Laut
(Sumber: Salahuddin Husein)

Dimana setiap kipas akan saling bertumpuk, sebelum mereka mengalami deformasi saat Cekungan Kendeng terkontraksi dan terangkat di akhir Neogen.

Dugaan ini terkonfirmasi dengan cepat oleh data-data sedimentologi yang sangat berlimpah: struktur gradasi khas endapan turbidit yang disusul oleh endapan arus traksi, endapan kipas (lobe) berbutir pasir yang melampar luas dan menyisip diantara endapan jeda (interlobe) berlumpur, serta disana-sini mencuat endapan tanggul (levee).

Gambar 3. Sedimentologi Cekungan Kendeng (Salahuddin Husein)

Last but not least, struktur sesar yang memotong singkapan ini berjurus timurlaut-baratdaya (NE-SW), yang biasanya diinterpretasikan harus menjadi sesar geser sinistral, mengingat masih turunan pola tektonik Meratus yang merespon tegasan konvergensi lempeng di selatan Jawa, ternyata justru merupakan sesar geser dekstral.

Just remember, observation first, followed by synthesis, and concluded by your own free (without dictated by previous researches) interpretation.

Banyak sekali mekanisme deformasi lokal yang dapat menyimpang dari konsep regional hasil peneliti terdahulu. Deformasi Kendeng melahirkan sabuk sesar anjak-lipatan (fold-thrust belt), dimana Sesar Kedungjati ini menjadi dekstral karena menjadi patahan sobek (tear fault) yang memfasilitasi lebih majunya sesar anjak di sebelah barat ke arah utara daripada sesar anjak di sebelah timur.

Sumber:

Salahuddin Husein. 2020. Stacking Submarine Lobe Complex. (Postingan Facebook @Salahuddin Husein diposting 28 Maret 2020

TAXONOMY BLOOM, APAKAH MASIH RELEVAN? (Bagian 1)

Taxonomy merupakan kata kerja pada setiap tujuan pembelajaran. Ini digunakan untuk mengklasifikasikan pernyataan yang diharapkan atau apa yang akan siswa pelajari sebagai hasil dari instruksi (Krathwol, 2002). Apakah tujuan pembelajaran yang tersurat di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Bapak/Ibu ada kata kerjanya?

Benyamin S. Bloom pada tahun 1949 memprakrasai untuk menyamakan persepsi tentang “kata kerja” yang digunakan dalam tujuan pembelajaran. Tentu ini berimplikasi terhadap alat ukur (tes) yang akan dipakai diakhir pembelajaran juga harus menggunakan “kata kerja” tersebut.

Draf final taxonomy diterbitkan pada tahun 1956, selama tujuh tahun berbagai ahli asesmen Amerika Serikat yang dipimpin Bloom menghasilkan apa yang kita kenal sebagai Taxonomy of Educational Objectives. Banyak dari kita menyebutnya Taxonomy Bloom.

Bloom yakin bahwa taxonomy juga dapat berfungsi sebagai;

  1. Bahasa umum tentang tujuan pembelajaran untuk memfasilitasi komunikasi antar orang, materi pelajaran, dan tingkat kelas.
  2. Dasar bagi tujuan pendidikan yang lebih luas, contoh dalam kurikulum nasional.
  3. Sarana untuk menentukan kesesuaian antara tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran.
  4. Untuk membedakan kurikulum antar sekolah, antar daerah, atau antar negara.

Taxonomy Asli (1956)

Para ahli yang terlibat dalam penyusunan Taxonomy Bloom sangat hati-hati mendefinisikan masing-masing domain kognitif yang dibagi ke dalam enam (6) kategori. Keenam tersebut adalah Pengetahuan, Pemahaman, Aplikasi, Analisis, Sintesis, dan Evaluasi. Kategori-kategori tersebut masih dibagi lagi menjadi sub-sub kategori, kecuali pada kategori Aplikasi.

Tabel 1. Struktur Taxonomy Bloom Asli

Gambar 1. Taxonomy Bloom’s

Itu tadi mengenai Taxonomi Bloom Asli, untuk menjawab apakah Taxonomi Bloom masih relevan, tunggu tulisan berikutnya ya kawan-kawan pendidiks.

Daftar Pustaka:

David R. Krathwohl (2002): A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Overview, Theory Into
Practice, 41:4, 212-218

ANTARA SKETSA DAN GEOLOGI

Saat di lapangan melakukan pengamatan berbagai bentang alam, tentunya kita akan mengabadikannya. Terutama, bagi yang suka pemandangan alam.

Salah satu ilmu yang berhubungan dengan bentang alam ialah geologi.

Namun, apakah kita hanya bisa mengandalkan kamera dari gawai pintar kita saja? Tidak, kita bisa menggambarnya dalam wujud sketsa.

Sketsa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti lukisan cepat (hanya garis-garis besaranya).

Ya menggambar bentang alam ketika praktik lapangan atau fieldstudy yang mempunyai batas waktu tentunya tidak dapat berlama-lama. Nah, membuat sketsa adalah salah satu solusinya.

Penggunaan sketsa lapangan geologi untuk menggambarkan konsep geologi sudah ada sejak hampir seusia geologi itu sendiri (John Noad, 2016).

Geologi merupakan salah satu ilmu yang sangat mengandalkan observasi secara visua, sangat menghargai presentasi data dalam bentuk visual pula (dalam berbagai skala; dari regional, lapangan, hingga sayatan mikrokopis) (Salahuddin Husein, 2013).

Sebagai seorang visual thinker, seorang ahli geologi sering dituntut untuk mampu “menggambar” (Rovicky Dwi Putrohari,2014).

Peta, penampang, diagram, gambar, dan sketsa merupakan cara-cara untuk mempresentasikan data geologi secara visual.

Dahulu seorang geologiawan sangat mengandalkan membuat sketsa untuk menyampaikan informasi geologi yang diperolehnya saat melakukan observasi lapangan.

Kini keahlian tersebut semakin langka. Padahal dengan membuat sketsa, seorang geologiawan akan terus mengasah kemampuan observasi, mengambil dan menonjolkan informasi geologi seraya mengabaikan informasi yang tidak relevan (Salahuddin Husein, 2013).

Gambar 3. Bentang Alam Geologi di Lapangan (Sumber: https://structuralgeo.files.wordpress.com/2013/11/portugal.jpg)

Sekarang begini, apakah mereka mampu atau tidak membuat sketsa penampang geologi di lapangan ? Bisakah mereka membuatnya tanpa menggunakan perangkat lunak di komputer ?” (Koesoemadinata, 2013)

Pertanyaan Koesoemadinata di atas menurut hemat kami merupakan kritikan bagi para geologiawan modern, bahwa tidak semua data geologi dapat digambar dengan baik melalui perangkat lunak.

Mengapa sketsa lebih unggul dari foto? (John Noad, 2016); Pertama dan terpenting, Sketsa geologi dapat menyoroti aspek geologi singkapan dengan cara yang jarang dapat dilakukan oleh foto. Banyak permukaan penting yang tidak menonjol saat dilihat, meskipun secara geologis penting.

Kedua, sketsa memungkinkan sudut pandang yang mungkin tidak dapat dicapai dalam kenyataannya, seperti pandangan mata burung dari singkapan.

Ketiga, sketsa dapat digambar di buku catatan dan dikerjakan hingga ilustrator sangat senang, membuktikan pepatah lama bahwa alat ahli geologi yang paling berguna adalah penghapusnya.

Keempat, menggambar singkapan dalam buku lapangan (fieldnotebook) memungkinkan ahli geologi untuk menambahkan catatan sebanyak yang mereka inginkan, kemudian disimpan di lokasi yang mudah ditemukan dan  mudah diakses untuk bertahun-tahun yang akan datang.

Tidak ada cara lain, berlatih menggambar sketsa geologi dan keluar lah ke lapangan untuk mengasah keterampilan Anda.

Daftar Pusataka:

John Noad. 2016. The (Forgotten?) Art of Geological Field Sketches. Disampaikan pada AAPG Annual Convention and Exhibition, Calgary, Aberta, Canada 19-22 Juni 2016.

Koesoemadinata. 2013. Dalam Oman Abdurahman. Spirit Geologi. Bandung: Badan Geologi.

Rovicky Dwi Putrohari. 2014. https://geologi.co.id/2014/03/26/sketsa-geologi/

Salahuddin Husein. 2013. https://geohedyn.wordpress.com/2013/10/30/sketches-making-the-vanishing-skill-of-modern-geologists/

GAMIFIKASI PEMBELAJARAN GEOSAINS

Data menunjukkan bahwa Pasar Game di Indonesia pada tahun 2018 sebesar US$ 1.1 Billion (sekitar Rp 15 Trilyun). Sangat besar bukan? Jadi kita tidak perlu terlalu heran jika sering melihat siswa main game, bahkan orang dewasa pun banyak yang main game?

Hampir semua siswa menginstal aplikasi game di telephone pintarnya. Game yang diinstal beragam, mulai dari game strategy, game moba, sampai adventure/action. Sebenarnya menginstal dan memainkan game bukanlah sebuah kesalahan, namun sering kali siswa lupa tugas utamanya, yakni sebagai insan pembelajar.

Masalah muncul ketika, siswa yang seharusnya mengendalikan game yang dimainkannya, tetapi malah menjadi dipermainkan oleh game tersebut. Waktu istirahat sibuk dengan gamenya, waktu tidur berkurang, dan tentu waktu belajar menjadi tidak ada.

Beberapa rekan penulis yang berprofesi sebagai guru sering mengeluhkan masalah game. Saat siswa di kelas bermain game, dan seketika guru masuk ke kelas, siswa merasa terganggu waktunya untuk bermain game. Ini bisa dilihat dari ekspresi ketidak sukaan siswa yang terlihat di wajah para pemain game. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak lagi memainkan game, tetapi mereka dipermainkan oleh game.

Kejadian serupa sering kali terjadi di rumah. Ketika anak main game, kemudian Si Anak diminta bantuan orang tua untuk membersihkan kamar atau diminta untuk makan. Biasanya Si Anak akan mengatakan nanti, dengan ekspresi terganggu keasikannya.

Apa Yang Membuat Game Menarik Bagi Siswa dibanding Belajar?

Setidaknya ada tiga elemen yang membuat sebuah game menarik, yakni Competition (Kompetisi), Engagement (Keterikatan), Immediate Rewards (Imbalan Langsung) (serc.carlenton.edu).

Kompetisi merupakan DNA bawaan yang ada pada diri manusia. Dengan adanya kompetisi manusia bisa survive (bertahan). Kompetisi dapat berupa antar individu maupun dalam bentuk pertandingan antar tim. Adanya kompetisi memuat motivasi siswa meningkat.

Dalam keterikatan terdapat unsur challenge (tantangan), curiosity (rasa ingin tahu), control (kontrol), dan fantasy. Manusia terlahir untuk menyukai tantangan, untuk menunjukkan jati diri, siswa pun demikian. Rasa ingin tahu yang besar, membangkitkan semangat siswa untuk mengekslorasi dan mengekploitasi sebuah game.

Kontrol permainan game ada pada pemain. Fantasy merupakan bagian dari Imajinasi. Jika kita ingat, seorang Ilmuan hebat Albert Einstein pun mengungkapkan rahasia kecerdasannya, yakni “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan.”

Imbalan langsung dari bermain game membuat siswa ketagihan bermain game. Jika belajar di kelas langsung mendapat imbalan, seperti siswa TK atau PAUD. Nama siswan di tempel di dinding. Ketika siswa melakukan hal baik, dibelakang namanya diberi bintang. Ini salah satu bentuk imbalan langsung.

Selain ketiga hal di atas, sering kali pressure (tekanan) sebuah game memiliki ukuran masing-masing, menggunakan level 1 (mudah) sampai level tertinggi (sulit). Tetapi di ruang kelas, guru memberikan tekanan (ancaman) yang selalu tinggi.

Bagiamana membuat Pembelajaran Geosains Menarik, Seperti Game?

  • Perhatikan terjadinya Proses Belajar

Selama ini seorang guru langsung mengharapkan siswa untuk belajar. Guru jarang atau bahkan tidak pernah berusaha menumbuhkan motivasi belajar, siswa juga tidak menguatkan motivasi dari dalam dirinya.

Padahal belajar merupakan sebuah proses, yang di awali dengan adanya motivasi. Tanpa motivasi dari dalam diri siswa, ditambah motivasi dari guru dan orang tua, mustahil siswa akan belajar.

Setelah itu, adakan keterikatan antara siswa dan guru. Ini bisa dimaknai sebagai peraturan yang dibuat dalam kesepakatan antara guru dan siswa. Jadi tidak bisa sekehendak guru, dan suka-suka siswa. Harus mengedepankan prinsip kemajuan bersama.

Tentu siswa yang tidak bisa menunjukkan komitmen dalam keterikatan, akan keluar dari permainan (game).

Gambar 1. Proses terjadinya belajar
  • Perhatikan Umpan Balik, Progres, dan Rewards

Sering kali siswa tidak mendapatkan umpan balik yang mereka kerjakan. Bahkan beberapa guru sama sekali tidak mengoreksi tugas siswa. Ini yang perlu dirubah. Agar pembelajaran menyenangkan, sesegera mungkin tugas dari siswa harus mendapat umpat balik dari guru.

Gambar 2. Tiga Bagian Membuat Belajar Semenarik Game

Siswa harus tahu progresnya (kemajuannya) dalam belajar. Progres dapat dilakuan dengan melakukan uji kompetensi ataupun tunamen antar siswa. Jika dilakukan dengan uji kompetensi berati menggunakan Penialain Acuan Patokan (PAP), sedangkan jika dilakukan dengan turnamen berarti menggunakan Penilaian Acuan Norma (PAN).

Progres ini juga dapat dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap siswa. Mengajak siswa berdialog dari hati ke hati akan memberikan gambaran, apakah siswa sudah paham benar tentang kemajuan belajarnya.

Pemberian reward tidak harus berupa materi. Reward dapat diberi dalam bentuk pujian, menampilkan profil dan pencapaian siswa di Sosial Media Sekolah, ataupun bentuk penghargaan yang lain.

Daftar Bacaan:

Harits Ar Rosyid. 2020. Gamifikasi Dalam Pembelajaran. Disampaikan dalam Webinar yang diselenggarakan Program Pascasarjana Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang.

https://serc.carleton.edu/introgeo/games/whatis.html

FORMASI GEOLOGI: BELAJAR DARI GRAND CANYON

Sebelumnya banyak pembaca di pendidikangeosains.id yang menyimak artikel “Formasi Tanjung: Brankas yang Bikin Kaya Binuang”.

Ternyata pembaca bukan saja berasal dari siswa atau mahasiswa yang sedang belajar geologi, tetapi juga masyarakat umum yang masih awam dengan istilah-istilah dalam geologi. Banyak yang bertanya-tanya, apa itu formasi geologi?

Pembaca pasti pernah mendengar kata formasi, bukan? Entah itu formasi mengenai kesebelasan sepak bola yang bertanding atau formasi yang berkaitan dengan tes CPNS.

Ya benar, formasi adalah susunan, kalau kita melihat artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun mengartikan demikian, jika berkaitan dengan pengawai, pengurus, kabinet, dan sebagainya.

Selain itu di KBBI juga dijelaskan formasi dalam olahraga yang berarti susunan atau barisan (sepak bola bola basket dan lain sebagainya) sebagai pola penyerangan atau pertahanan; seperti formasi 4-4-2 atau 4-2-3-1, dapat pula di artikan penempatan pemain atau orang-orang yang akan melakukan senam.

KBBI juga mengartikan arti formasi dalam geo (geologi dan geografi) sebagai seperangkat lapisan atau strata yang memiliki ciri litologis yang sama dan mengandung sisa-sia kehidupan (fosil) yang sama pula.

Seorang ahli geologi bernama Brookfield mengungkapkan arti formasi sebagai berikut;

A formation is a homogeneous rock unit, or an association of distinct interbedded rock units, which are separable from the rock units above and below (Brookfield, M. E., 2004).

Formasi adalah satuan batuan yang homogen, atau asosiasi dari satuan batuan berselang-seling yang berbeda, dapat dipisahkan dengan satuan batuan di atasnya dan yang di bawahnya (Brookfield, M. E., 2004).

Grand Canyon sering digunakan sebagai contoh untuk menjelaskan formasi-formasi geologi. Lapisan-lapisan yang kita lihat pada Grand Canyon tersebut merupakan contoh formasi geologi.

Keterangan Gambar 2 sebagai berikut:

Angka 1-6 (warna hitam paling kiri) pada Gambar 2 merupakan Kelompok Formasi, sedangkan warna putih 1a-6d merupakan formasi.

6 =Kelompok Formasi Hermit, Coconino, Toroweap, dan Kaibab

6d Formasi Kaibab Limestone

6c Formasi Toroweap

6b Formasi Coconino Sndastone

6a Formasi Hermit Shale

5 =Kelompok Formasi Supai

5d Formasi Esplanade

5c Formasi Wescogame

5b Formasi Manakacha

5a Formasi Watahomigi

4 =Kelompok Formasi Temple Butte, Redwall, dan Surprise Canyon

4c Formasi Surprise Canyon

4b Formasi Redwall Limestone

4a Formasi Temple Butte Limestone

3 =Kelompok Formasi Tonto

3c Formasi Muav Limestnoe

3b Formasi Bright Angel Shale

3a Tapeats Sandstone

2 =Kelompok Grand Canyon Super

1 =Kelompok Formasi Vishnu

1b Formasi Zoroaster Granite

1b Formasi Visniphou Schist

Daftar Pustaka:

Brookfield, M. E., 2004.Principles of Stratigraphy. MA: Blackwell Publishing

GEOLOGI PERTAMBANGAN: SEBUAH PENGANTAR

Istilah Geologi Pertambangan berawal dari Geologi Tambang (Mining Geology). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tambang berarti lombong (cebakan, parit, lubang di dalam tanah) tempat menggali (mengambil) hasil dari dalam bumi berupa bijiih logam batu bara, dan sebagainya. Sedangkan pertambangan adalah urusan (pekerjaan dan sebagainya) yang berkenaan dengan tambang.

Gambar 1. Tambang Underground di Sawahlunto

Penulis juga tidak tahu pastinya kapan istilah Geologi Tambang berubah menjadi Geologi Pertambangan, namun yang jelas sebagai suatu Ilmu, Geologi dan Pertambangan merupakan sesuatu yang berbeda.

Hampir semua Perguruan Tinggi di Indonesia, memisahkan Jurusan (Program Studi) antara keduanya. Ada Jurusan Geologi dan ada Jurusan Pertambangan.

Hal ini sama dengan yang berlaku di Colorado School of Mines (Perguruan Tinggi Terbaik di bidang geologi dan pertambangan Versi QS World) Amerika Serikat, kedua jurusan ini terpisah. Meskipun ada Kelompok Riset yang menggabungkan keduanya.

Hanya beberapa Kampus di dunia yang memiliki Jurusan Geologi Pertambangan (tidak dipisah), salah satunya Camborne School of Mines (University of Exeter) Inggris, mempunyai Program Magister Geologi Pertambangan. Untuk Program Sarjana, salah satu yang mempunyai Program Geologi Pertambangan ialah di Curtin University (Australia).

Hanya satu Perguruan Tinggi di Indonesia yang pernah menggabungkan istilah Geologi Pertambangan dalam satu Jurusan, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM).

UGM pada Program Magister Teknik Geologi, pernah membuka Minat Studi Magister Geologi Pertambangan (MGP). Namun sayangnya sekarang MGP sudah ditutup sejak diberlakukan Kurikulum 2017 di Magister Teknik Geologi UGM.

Geologi Pertambangan lebih banyak digunakan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagai nama Program Keahlian (Kompetensi Keahlian).

Apakah itu Geologi Pertambangan?

Mining geology is a specialized area of applied geological sciences that historically evolved as a support for operating mines and for evaluating mining projects (Abzalov, M., 2016).  The main objective of mining geology is to provide detailed geological information, and undertake technical and economic studies to evaluate a mining project (Abzalov, M., 2016).

Geologi tambang adalah aplikasi geologi dalam industri pertambangan (Balfas, M.D., 2015).

Mining geology is an applied science which combines the principles of economic geology and mining engineering to the development of a defined mineral resource (Lacy, W.C., 1983).

Dari ketiga pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa Geologi Pertambangan merupakan ilmu spesialisasi berupa aplikasi dari ilmu geologi untuk mendukung operasi pada industri pertambangan dari menemukan sumber barang tambang (bahan galian) sampai dengan mengevaluasi proyek penambangan.

Jadi dapat dikatakan bahwa Geologi Pertambangan merupakan bagian dari Ilmu geologi yang khusus untuk mendukung penambangan.

Ruang Lingkup

Sebagai sebuah bidang spesialis, Geologi Pertambangan a.k.a Geologi Tambang memiliki ruang ling

1. Pekerjaan Sebelum Penambangan

Meliputi; pencarian (prospeksi) dan pembuktian (eksplorasi) untuk mendapatkan keterangan mengenai letak, bentuk, sifat-sifat, mutu, dan cadangan suatu cebakan mineral (Balfas, M.D., 2015)

2. Pekerjaan Selama Operasi Penambangan

Meliputi: pemetaan, korelasi data, pengembangan, dan pengecekan akurasi data eksplorasi (Balfas, M.D., 2015).

3. Analisis mineral/bahan galian

4. Komunikasi

Menyusun dan menyajikan laporan eksplorasi (Balfas, M.D., 2015).

Colorado School of Mine dalam situsnya mencantumkan ruang lingkup kajian Geologi Pertambangan adalah:

Penggunaan alat geologis untuk mengatasi masalah teknis dan sosial-teknis dalam eksplorasi mineral, pengembangan tambang, produksi, dan reklamasi.

Proyek yang dikerjakan oleh Grup Penelitian Geologi Pertambangan Colorado School of Mines berkaitan dengan:

• Menjelaskan proses geologi yang membentuk deposit bijih untuk mengidentifikasi vektor eksplorasi mineral.

• Menggunakan data geologis untuk meningkatkan keselamatan selama operasi tambang.

• Memanfaatkan geologi endapan bijih dan geokimia untuk pemrosesan mineral yang efisien dan reklamasi tambang yang lebih holistik.

• Mengintegrasikan aspek teknis eksplorasi mineral dan teknik pertambangan ke dalam pelibatan pemangku kepentingan dan desain yang berpusat pada masyarakat.

Daftar Pustaka:

Abzalov, M. (2016). Applied Mining Geology. Swiss: Springer

Balfas, M.D. (2015). Geologi Untuk Pertambangan Umum. Yogyakarta: Graha Ilmu

Lacy, Willard C., ed. (1983). Mining geology. Stroudsburg, Pa.: Hutchinson Ross Pub. Co

https://mininggeologyresearch.mines.edu/1

http://handbook.curtin.edu.au/courses/31/318804.html

http://pasca.geologi.ugm.ac.id/magister/wp-content/uploads/2019/02/2018-07-26-Panduan_Akademik_S2-TGL-2018.pdf

http://www.exeter.ac.uk/postgraduate/courses/mining-engineering/mining-geology-msc/

FORMASI TANJUNG: BRANKAS YANG BIKIN KAYA BINUANG

Cekungan Barito bagian timur memiliki Formasi Tanjung. Formasi tersebut merupakan batuan sedimen tersier tertua di daerah ini.

Selain Formasi Tanjung, di daerah ini juga dialasi oleh batuan sedimen Kelompok Pitap, batuan vulkanik Kelompok Haruyan, Formasi Batununggal dan Paniungan, Granit Belawaian, dan batuan ultrabasa.

Cekungan Barito, sebagai salah satu cekungan tempat beraku­mulasinya sumber daya energi, memiliki endapan batubara dengan sebaran yang sangat luas. Tidak mengherankan jika banyak perusahaan tambang melakukan kegiatan penambangan di daerah ini.

Gambar 1. Lokasi Daerah Binuang

Daerah yang kaya akan batubara ini sudah sejak Pra Kemerdekaan menjadi lokasi yang menarik bagi para geolog. Geolog yang pernah meneliti daerah ini diantaranya; Krol (1920 dan 1925), diikuti oleh Koolhoven (1933 dan 1935), van Bemmelen (1949), dan Marks (1956).

TATANAN GEOLOGI

Batuan sedimen Tersier di daerah ini dialasi oleh batuan Pratersier yang terdiri atas granit dan diorit berumur Kapur Awal, yang menerobos batuan malihan berumur Jura.

Di atas batuan tersebut terendapkan batulempung Formasi Paniungan dan batugamping Formasi Batununggal yang berumur akhir Kapur Awal. Tidak selaras di atasnya menindih batuan sedimen Kelompok Pitap yang terdiri atas Formasi Pudak (tidak tersingkap di daerah penelitian), Keramaian, dan Manunggul.

Kelompok ini menjemari dengan batuan gunung api Kelompok Haruyan (Formasi Pitanak dan Paau). Kedua kelompok batuan tersebut yang menjadi alas Cekungan Barito, berumur Kapur Akhir.

 Batuan sedimen Tersier tertua di daerah ini adalah Formasi Tanjung berumur Eosen Akhir yang terbagi menjadi bagian bawah, tengah, atas, dan Anggota Batulempung. Formasi Tanjung tertindih secara selaras oleh Formasi Be­rai yang berumur Oligo-Miosen.

Formasi Berai di Cekungan Barito bagian utara dan barat menjemari dengan Formasi Montalat. Selanjutnya, Formasi Warukin yang berumur Miosen Tengah menindih secara selaras Formasi Berai.

Kemudian Formasi Warukin ini ditindih secara tidak selaras oleh For­masi Dahor yang berumur Plio-Plistosen.

Sesar di daerah ini umumnya berupa sesar normal sampai geser normal (mendatar) (Gambar 2), membentuk penyesaran bongkah (block faulting). Blok bagian turun ditempati oleh endapan kelompok batuan Tersier, khususnya Formasi Tanjung.

FORMASI TANJUNG

Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya tersing­kap di tiga lajur yang satu sama lain terpisahkan oleh sesar, yaitu Lajur Barat, Tengah, dan Timur.

 Formasi Tanjung di Lajur Barat, tersingkap mulai dari sebelah timur Astambul Kabupaten Banjar di selatan, menyebar ke arah timur laut sampai ke daerah Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Lajur Tengah menempati Sungai Mengkaok, mulai dari muaranya di Sungai Riam Kiwa di bagian selatan, menyebar ke arah timur laut sampai dengan sebelah timur Gunung Kupang di utara.

Selanjutnya, Lajur Timur tersingkap di daerah Ran­taunangka bagian timur.

Secara litostratigrafis Formasi Tanjung di daerah ini, dari tua ke muda menjadi bagian bawah, tengah, atas, dan Anggota Batulempung.

Bagian bawah Formasi Tanjung terdiri atas perselingan batupasir berbutir kasar, batupasir konglomeratan, dan konglomerat, dengan ketebalan berkisar antara 20 – 50 cm.

Ke­mudian diikuti oleh batupasir berbutir kasar berla­pis tebal sampai pejal. Di beberapa tempat, dalam batupasir kasar dijumpai struktur sedimen perlapisan silang-siur dan sejajar, selain itu juga dijumpai si­sipan batulumpur warna kelabu sampai kehitaman mengandung lapisan tipis batubara.

Selanjutnya, bagian tengah didominasi oleh batulempung kelabu berselingan dengan lapisan batubara, setempat dijumpai sisipan batupasir.

Batulempung kelabu, setempat sampai kehitaman, mengandung sisipan tipis (1 – 3 cm) batupasir halus warna kelabu, kompak. Sisipan batupasir (100 – 300 cm), berbutir sedang – kasar, warna kelabu terang, setempat menunjukkan struktur sedimen silang-siur.

Batubara warna hitam, mengilap (bright – bright banded), gores warna hitam, dengan pecahan konkoidal, dan ringan. Batubara ini dijumpai sebagai sisipan dengan ketebalan antara 50 sampai 450 cm.

Di beberapa tempat dijumpai perselingan batulanau dengan batupasir berbutir halus (1 – 3 cm), dengan struktur sedimen perairan sejajar, serta perlapisan wavy-lenticular dan flaser

Bagian atas Formasi Tanjung didominasi oleh perselingan tipis batulanau dan batupasir halus yang memperlihatkan struktur sedimen wavy dan lenticular bedding, serta juga flaser.

Selain itu, dijumpai sisipan batupasir berbutir halus berlapis tipis, tebal 2 sampai 5 cm, dengan struktur sedimen perarian sejajar. Selanjutnya, dijumpai pula sisipan batupasir berbutir kasar dengan ketebalan berkisar antara 1 sampai 5 m

Gambar 2. Penampang terukur bagian bawah, tengah, atas, dan Anggota Batulempung Formasi Tanjung (Heryanto,2008).

LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA

Batuan sedimen pembawa batubara dalam For­masi Tanjung mnempati bagian tengah satuan, yang terdiri atas batulempung – batulanau warna kelabu sampai kehitaman, berasosiasi dengan perselingan batulumpur dan batupasir berbutir halus yang mem­perlihatkan struktur sedimen laminasi sejajar, serta perlapisan wavy, lenticular, dan flaser.

Gambar 3.Singkapan Endapan Rawa Pantai

Lingkungan pengendapan batuan sedimen pem­bawa batubara dan batubara di Lajur Barat mulai dari lingkungan subakuatik (laut) sampai dengan upper – lower delta plain dengan fasies wet for­est swamp (backmangrove sampai rawa air tawar)dalam kondisi genang laut.

Lajur Tengah termasuk ke dalam fasies wet forest swamp (backmangrove sampai rawa air tawar) pada ling­kungan upper sampai lower delta plain, dalam kon­disi genang laut.

 Adapun lingkungan pengendapan batuan sedimen pembawa batubara dan batubara di Lajur Timur termasuk ke dalam fasies wet forest swamp (rawa air tawar) pada lingkungan paparan banjir, dalam kondisi genang laut.

Gambar 4. Singkapan Batubara di Daerah Rantaunangka

Sumber Pustaka:

Heryanto. 2009.   Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara  Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya,  Kalimantan Selatan. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No. 4 Desember 2009: 239-252

BELAJAR PENDEKATAN KOMPLEKS WILAYAH (REGIONAL COMPLEX APPROACH)

Setelah postingan sebelumnya kita belajar pendekatan keruangan dan pendekatan ekologis, kini saatnya kita belajar pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan ini tak lain merupakan integrasi dari pendekatan keruangan dan ekologis (Yunus, 2008). Holt-Jensen (2009) lebih memilih kata kombinasi daripada integrasi. Namun, kedua kata tersebut tidak memiliki perbedaan yang jauh.

Perlu digaris bawahi bahwa penggunaan istilah regional complex perlu disadari dan dipahami secara benar. Konsep ini menegaskan bahwa perlu adanya pemahaman mendalam tentang property di wilayah bersangkutan dan merupakan regional entity (Yunus, 2008).  Yang menjadi dasar dalam pendekatan ini ialah kompleksitas gejala dari eksistensi suatu wilayah, di samping  efek internalitas dan eskternalitas pada wilayah tersebut.

Letak utama dari unit analisis dalam pendekatan ini adalah perbedaan area (areal differentiations). Caranya ialah dengan membuat garis dan arus (lines and flow) dari masing-masing wilayah, selanjutnya dilakukan pengamatan (Holt-Jensen, 2009). Areal differentiations tiap-tiap satuan wilayah dapat diketahui dengan cara diidentifikasi.

Isitilah regional dan areal differentiations pertama kali dikenalkan oleh Hartshorne (1939), menyatakan bahwa geografi belajar tentang perbedaan wilayah. Inti dari geografi regional ialah mengenai kekhasan wilayah (unique places). Dalam bahasa yang dipakai Taaffe (1974) disebutnya “unique phenomena” (Dalam Khabazi, 2018)

Gambar 1. Contoh Regional Complex Transportasi Komuter di Amerika Serikat
Sumber: https://core.ac.uk/download/pdf/59922509.pdf

Langka Melakukan Pendekatan Kompleks Wilayah

Pertama, identifikasi unit area terkecil.

Kedua, mengamati bagaimana tiap-tiap area terhubung satu sama lain secara sistematis untuk memperoleh gambaran struktur dan fungsional masing-masing area yang lebih luas (sedang).

Ketiga, mengamati area sedang dengan area sedang yang lainnya untuk mengetahui bagaimana area-area tersebut membentuk suatu region (area luas).

Keempat, mengamati bagaimana area luas (region) dengan region lainnya dapat terhubung dan bagaimana pengaturannya (Khabazi, 2018).

Ukuran region tergantung topik (tema) penelitian yang dilakukan, dapat pula berwujud batasan fisik DAS (Daerah Aliran Sungai) ataupun batasan non fisik yang dibuat berdasarkan kriteria tertentu.

Gambar 3. Contoh Region di Daerah Chengdu, China (Topik Industrial) Sumber: https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215656
Gambar 4. Contoh Region di Chengdu, China (Topik Commercial) https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215656

Daftar Pustaka:

Holt-Jensen, A. 2009. Geography History and Concepts : A Student’s Guide. London: SAGE

Khabazi, M. 2018. Regional Geography and Quantitative Geography: Compare and Contrast

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.

BELAJAR PENDEKATAN KELINGKUNGAN (ECOLOGICAL APPROACH)

Gambar 1. Contoh Penerapan Pendekatan Ekologi
Sumber: https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215796

Sebelum kita mempelajari pendekatan ekologi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tentang ekologi. Istilah ekologi mempunyai arti ilmu yang mempelajari keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya (Worster, 1977).

Dalam perkembangannya ilmu ekologi terbagi menjadi tiga arah (fokus) (Yunus, 2008). Pertama, fokus pada analisis kerterkaitan atau interaksi antar organisme dan juga dengan lingkungan biotik dan abiotiknya serta bagaimana akibat yang ditimbulkannya. Kedua, fokus pada scientific ecology (sub disiplin biologi). Ketiga, berkaitan dengan masalah politik dan kebijakan publik, serta dikaitkan dengan norma-norma yang berkembang di masyarakat.

Geografiawan harus membatasi dirinya dalam melakukan analisis ekologi, karena keterbatasan akademik yang dipunyai ilmu Geografi. Diharapkan geografiawan tidak terjebak dalam “scientific ecology” karena itu bukan ranahnya.

Sebagai contoh, geografiawan tidak perlu dan tidak akan mampu menjawab rumusan masalah “Mengapa populasi badak di Ujung Kulon menurun?” pertanyaan semacam ini cocok dijawab oleh ahli scientific ecology, karena modal pengetahuan yang mereka miliki mumpuni.

Pendekatan ekologi seperti apa yang cocok dalam disiplin geografi?

Perlu diingat bahwa geografi merupakan ilmu yang “human oriented” dalam konsep tersebut mengandung makna bahwa manusia dan kegiatan manusia selalu menjadi fokus analisis dalam keterkaitanya dengan lingkungan biotik, abiotik, maupun lingkungan sosial, ekonomi, ataupun kulturlnya (Dangan and Troop, 1995).

Manusia dalam hal tersebut di atas tidak boleh diartikan sebagai makhluk hidup semata yang sama dengan makhluk hidup lainnya (hewan dan tumbuhan), namun manusia diartikan sebagai sosok yang dikaruniai daya cipta, rasa, karsa, dan karya (Makhluk yang berbudi daya) (Yunus, 2008).

Jadi pendekatan ekologi yang dimaksud dalam ilmu geografi ialah analisis mengenai interelasi antara manusia dan atau kegiatannya dengan lingkungan(Yunus, 2008). Dalam analisis ini yang dipelajari adalah hubungan dalam wilayah geografis tertentu (ruang), bukan variasi spasial antar wilayah (Holt-Jensen, 2009).

Jika pendekatan spasial memiliki sembilan tema, maka pendekatan ekologi memiliki empat tema, yaitu;

Human behaviour – environment theme of analysis

Human activity (performance) – environment theme of analysis

Physico natural features (performance) – environment theme of analysis

Physico features (performance) – environment theme of analysis

Sama dengan tema yang ada pada pendekatan spasial, seorang geografiawan tidak harus menggunakan keempat tema yang ada dalam menelaah suatu fenomena geosfer.

Tema Human behaviour – environment theme of analysis

Analisis dalam tema ini berfokus pada perilaku manusia, baik perilaku sosial, perilaku ekonomi, perilaku kultural dan bahkan perilaku politik, baik manusia sebagai individu atau komunitas tertentu.

Contoh, ada masyarakat di daerah dekat hutan lindung yang selalu menebangi kayu pada hutan lindung. Dengan tema Human behaviour – environment theme of analysis analisisnya akan berupaya mencari jawaban mengenai apa latar belakang hal tersebut, bagaimana prosesnya, apa dampak yang ditimbulkan, serta bagaimana mengatasinya.

Gambar 2. Berladang
Sumber: https://nasional.kontan.co.id/news/menjaga-tradisi-berladang-sungai-utik

Tema Human activity (performance) – environment theme of analysis

Analisis dalam tema ini ditekankan pada kinerja dari bentuk-bentuk kegiatan manusia. Jadi kegiatan manusialah yang menjadi fokus pada tema ini. Jika tema pertama tadi menyangkut attitude, maka pada tema ini berkaitan dengan external performance.

 Kegiatan terkait dengan tindakan manusia dalam dalam menyelenggarakan kehidupan sedimikian rupa, seperti kegiatan pertanian, pertambangan, industri, perumahan, pariwisata, dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku berkaitan dengan sifat batiniah dan persepsi.

Contoh, negara maju melakukan kegiatan pertanian secara modern dan menjadikan negara tersebut sebagai eksportir produk pertanian (Amerika Serikat dengan apel dan jeruk), sedangkan pertanian di negara berkembang tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya sehingga perlu impor (Indonesia impor jagung).

Analisis dalam tema ini jika digunakan untuk menguraikan fenomena di atas ialah dengan cara mengungkapkan faktor-faktor internal (yang berkaitan dengan pertanian) dan faktor-faktor eksternal (yang merupakan elemen-elemen lingkungan) selanjutnya dilakukan analisis mendalam. Model penelitian SWOT, dapat diterapkan pada fenomena seperti ini.

Gambar 3. Pertanian di Negara Maju
Sumber: https://nttbangkit.com/belajar-dari-kemajuan-jepang-jadi-raksasa-industri-pertanian-paling-unggul-di-dunia/

Tema Physico natural features (performance) – environment theme of analysis

Analisis ini menekankan pada keterkaitan antara kenampakan fisik alami dengan elemen-elemen lingkungannya.

Contoh, sebuah sungai menunjukkan adanya polusi air yang mengakibatkan banyak ikan (biota) di sungai tersebut mati. Gejala menurunya kualitas sungai dapat ditelusuri dengan menganalisis faktor internal (sungai itu sendiri) seperti pH airnya, kandungan polutan dalam air dan lain sebagainya, dikaitkan dengan faktor eksternal (yang ditimbulkan manusia  yang hidup disekitar sungai) dalam hal ini berkaitan dengan penggunaan lahan di sekitar sungai, industri yang membuang limbah ke sungai, dan lain sebagainya.

Penelitian tersebut diharapkan dapat menemukan jawaban, mengapa terjadi penurunan kualitas sungai, seorang geografiawan juga dituntut mampu mencari solusi secara preventif, kuratif dan inovatif untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memberi saran kepada masyarakat yang ada disekitaran sungai.

Gambar 4. Tercemarnya Air Sungai Mengakibatkan Ikan Mati
Sumber: https://news.harianjogja.com/read/2018/07/22/500/929412/diduga-tercemar-limbah-pabrik-puluhan-ikan-di-mukomuko-mati

Tema Physico features (performance) – environment theme of analysis

Analisis ini menekankan mengenai keterkaitan antara kenampakan fisik budayawi (buatan manusia) dengan elemen lingkungan dimana obyek kajian berada.

Contoh, suatu daerah permukiman tertentu yang semula tidak terjadi penggenangan namun pada akhir-akhir ini terjadi penggenangan sehingga mengakibatkan terjadinya deteriorisasi lingkungan yang hebat. Kompleks permukiman merupakan bentukan artifisial yang bersifat fisikal. Dalam hal ini peneliti dapat bertitik tolak dari faktor-faktor internal (permukiman itu sendiri) dan juga faktor-faktor eksternal (di luar permukiman tersebut) yang diperkirakan mempunyai keterkaitan erat dengan munculnya penggenangan.

Apakah terdapat perubahan iklim khususnys curah hujan, perubahan alur sungai, kondisi laut, kerusakan hutan, penambahan luas pengerasan permukaan tanah yang berakibat bertambahnya run off, hilangnya kantong-kantong penampung air karena faktor alami atau faktor non alami (kebijakan pembangunan yang salah) dan lain sebagainya. Dengan meneliti keterkaitan antara permukiman dan faktor-faktor lingkungannya dapat diketahui penyebab utamanya dan sekaligus geografiwan akan mampu memberikan masukan tentang berbagai alternatif pemecahannya.

Gambar 5. Pembangunan Yang Tidak Memperhatikan Daya Dukung Lingkungan  Menyebabkan Banjir
Sumber: http://terra-image.com/banjir-balkan-dari-citra-satelit/

Daftar Pustaka:

Dangana, L and Tropp, C. 1995. “Human Ecology and and Environmental Ethics”. In M.Archia and S.Tropp (eds.) Environmental Management: Issues and Solution. Chichester: John Wiley and Sons.

Holt-Jensen, A. 2009. Geography History and Concepts : A Student’s Guide. London: SAGE

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.

Worster, D. 1977. Nature’s Economy: A History of Ecological Ideas. Cambridge: Cambridge University Press

BELAJAR PENDEKATAN KERUANGAN (SPATIAL APPROACH)

Bab I Geografi SMA Kelas X antara lain berisi materi Pendekatan Geografi. Materi ini masih sangat debatable (sering menimbulkan perdebatan) di internal geografiawan. Guru geografi pun masih banyak yang limbung dan linglung jikalau ditanya siswa atau kolega mengenai ketiga pendekatan ini. Dalam pencak silat, Pendekatan Geografi seperti halnya kuda-kuda. Jadi harus kuat.

Bahkan soal Ujian Nasional, sebelum UN ditiadakan hampir dipastikan (100%) materi pendekatan geografi muncul, dan banyak siswa yang salah menjawab. Ketika guru geografi membahasnya dalam MGMP ataupun melalui media lain semacam grub WA, juga sering berbeda jawaban.

Permasalahan semacam ini mungkin yang menjadi keprihatinan Prof Hadi Sabari Yunus, dengan mengibaratkan dalam kalimat “adverse negative impact.

Pendekatan Geografi yang ada tiga (spatial, ecological, regional complec approach) merupakan fitrah ilmu geografi (Yunus, 2008). Yang harus dijiwai setiap geografiawan, agar peran ilmu geografi tidak semakin termarginalkan. Pada perkembangannya ketiga pendekatan itu dapat tarik menarik.

Perlu digaris bawahi bahwa pendekatan merupakan suatu metode analisis (pisau analisis) dalam menelaah sebuah fenomena.

Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai pendekatan keruangan.

Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)

Pendekatan ini menekankan analisisnya pada eksistensi ruang (space) sebagai wadah untuk mengakomodasi kegiatan manusia dalam menjelaskan fenomena geosfer (Yunus, 2008).

Pendekatan geografi berkaitan erat dengan objek kajian geografi yang berupa geospheric phenomena (fenomena geosfer), maka segala sesuatunya dalam objek tersebut dapat diamati dengan menggunakan sembilan matra (tema).

Kesembilan matra tersebut ialah (1) pola (pattern); (2) struktur (structure); (3) proses (process); (4) interaksi (interaction); (5) organisasi dalam sistem keruangan (organisation within spatial system); (6) asosiasi (association); (7) tendensi atau kecenderungan (tendencies or trends); (8) pembandingan (comparation); dan (9) sinergisme keruangan (spatial synergism).

Dengan demikian dapat dikembangan sembilan pendekatan keruangan (spatial approach)

(1) spatial pattern analysis;

(2) spatial structure analysis;

(3) spatial process analysis;

(4) spatial interaction analsis;

(5) spatial association analysis;

(6) spatial organisation analysis;

(7) spatial tendency/trends analysis;

(8) spatial comparison analysis;

(9) spatial synergism analysis.

Seorang geografiawan tidak harus melaksanakan sembilan tema tersebut secara bersamaan, karena sebagai manusia kita memiliki keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Memilih satu atau beberapa tema, serta menjelaskan operasionalisasi pendekatannya sangat dimungkinkan dan tidak mengurangi kadar keilmuannya.

Spatial Pattern Analysis

Penekanan utama dari analisis ini adalah sebaran pada elemen-elemen pembentuk ruang. Tahap awal dari analisis ini berupa identifikasi, selanjutnya menjawab geographic questions (pertanyaan geografi) berupa 5W+1H.

What: Fenomena apa yang diteliti?

Where: Dimana fenomena tersebut terjadi?

When: Kapan kenampakan fenomena tersebut ada?

Why: Mengapa terjadi penampakan seperti itu?

Who: Siapa yang mendiami?

How: Bagaimana proses pengelompokan tersebut dapat terjadi?

Uraian yang mengemukakan mengenai jawaban 5W+1H ini harus tercermin dalam daftar isi makalah yang dibuata oleh geografiawan. Kedalaman analisis akan terlihat dari penekanan jawaban yang dimunculkan.

Gambar 2. Pola Permukiman yang Unik di Brondby Haveby Denmark
Sumber: https://unusualplaces.org/inner-circles-circular-gardens-of-brondby-haveby-denmark/

Spatial Structure Analysis

Analisis ini bertumpu pada susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Struktur keruangan dapat berupa fenomena fisikal dan non fisikal. Sebagai contoh daerah agraris, dengan pemanfaatan 75% lahan untuk pertanian, dan 25% untuk lainnya. Untuk memperdalam analisis ini dapat digunakan pertanyaan why, who, dan how. Namun jika hanya ingin mengetahuai deskripsinya, dapat digunakan pertanyaan what, when, dan where.

Gambar 2. Fenomena Fisikal dan Non Fisikal
Sumber: http://asmireland.ie/wp-content/uploads/2012/04/Farm-map-overview.jpg

Spatial Proses Analysis

Analisis ini menekankan pada proses keruangan yang biasanya divisualisasikan pada perubahan ruang. Perubahan tesebut dapat dikemukakan secara kuantitatif dan kualitatif. Setiap perubahan tidak dapat dilepaskan dari waktu kejadiannya, sehingga aspek temporal menjadi peranan utama dalam analisis ini (Yunus, 2008).

Memandingkan sebuah kota atau wilayah pada tahun 1990 dan tahun 2000 tentang perubahan bentang lahannya merupakan contoh fenomena geofer yang dapat dianalisis dengan tema ini. Diperlukan foto udara, ataupun citra satelit multi-temporal untuk fenomena ini. Analsis lebih lanjut dari fenomena temporan dapat dikembangkan dengan menjawab pertanyaan, bagaimana perubahan itu terjadi dan dampak apa saja yang mungkin timbul dari perubahan tersebut?

Gambar 3. Perbandingan Laut Aral dari Tahun 1990, 2000, dan 2010
Sumber: https://www.alamy.com/stock-photo/aral-sea-satellite.html

Spatial Interaction Analysis

Analisis dengan tema ini menekankan pada interaksi antar ruang. Hubungan timbal balik antara ruang yang satu dengan yang lain mempunyai variasi yang sangat besar, sehingga upaya-upaya mengenali faktor pengontrol interaksi menjadi sedemikian penting. Analisis lebih lanjut dengan berusaha menjawab pertanyaan mengapa terjadi interaksi dan bagaimana interaksi terjadi?

Gambar 4A. Pembagian Wilayah China Selatan dan China Utara untuk Analisis Interaksi Spasial Sumber: Sumber: https://www.mdpi.com/2220-9964/9/2/68/htm
Gambar 4B. Interaksi Budaya China Utara dan Selatan
Sumber: https://www.mdpi.com/2220-9964/9/2/68/htm

Spatial Organization Analysis

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen lingkungan mana yang berpengaruh terhadap terciptanya tatanan spesifik dari elemen-elemen pembentuk ruang. Penekanan utamnya pada keterkaitan kenampakan yang satu dengan yang lain secara individu. Perbedaan antara analisis ini dengan analisis pola adalah pada analisis pola kekhasan aglomerasi menjadi kunci, sedangkan pada analisis organisasi hubungan dan hirarkhi antar elemen menjadi faktor utama.

Spatial Association Analysis

Analisis ini bertujuan untuk mengungkapkan terjadinya asosiasi keruangan antar berbagai kenampakan pada suatu ruang. Untuk mengetahui ada atau tidaknya asosiasi keruangan antar variabel satu dengan lainnya dapat dilakukan dengan menganalisis visualisasi peta dan dengan metode analisis statistik. Apakah ada asosiasi keruangan antara kepadatan penduduk dengan peningkatan tindak kriminal di beberapa tempat di kota?

Gambar 6. Peta Kepadatan Penduduk California dan Peta Rerata Kriminalitas di California Sumber: http://www.geocurrents.info/tag/crime-and-population-density#gallery/0/

Spatial Tendency/Trends Analysis

Analisis ini menekankan upaya mengetahui kecenderungan perubahan suatu gejala. Pertanyaan seperti ke arah manakah perkembangan Kota Surakarta? Merupakan salah satu contoh fenomena geosfer yang harus dijelaskan dengan analisis ini. Ya memang benar analisis ini merupakan kelanjutan dari tema analisis sebelumnya, seperti spatial pattern analysis, sapatial structure, spatial process, dan spatial asociation. Membaca trend perekembanganfenomena geosfer seperti perkembangan permukiman disarankan menggunakan analisis ini.

Spatial Comparison Analysis

Analisis ini mempunyai tujuan untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan suatu ruang dibandingkan dengan ruang lainnya. Studi banding merupakan salah satu contoh kegiatan dalam analisis semacam ini. Fenomena terbaru ialah pemilihan Ibukota di Indonesia baru-baru ini, dari ketiga calon ibu kota, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Dipilihlah Kalimantan Timur sebagai letak Ibukota negara Indonesia yang baru, berdasarkan berbagai aspek multi disiplin keilmuan.

Gambar 8.A Postingan Presiden Jokowi Mengenai Tiga Calon Ibu Kota Negara di Instagram Sumber: https://regional.kompas.com/read/2019/08/09/17411841/ini-alasan-lokasi-lahan-ibu-kota-baru-di-kalsel-masih-dirahasiakan

Spatial Synergism Analysis

Analisis ini akan sangat berguna untuk merencanakan, mengaplikasikan dan mengevaluasi konsep pembangunan kerja sama antar wilayah, seperti Jabodetabek, Joglosemar, Kartamantul, Gerbang Kertasusila, Banjarbakula dan lain sebagainya. Selama ini kerja sama antar wilayah masih sekedar penamaan, belum mengintegrasikan visi antar wilayah, sehingga terkesan masing-masing wilayah berjalan sendiri-sendiri.

Belajar pendekatan spasial memang tidak bisa dilepaskan dari peta. Ruang (space) memang lebih mudah dipelajari dengan peta. Jadi jika kalian sedang belajar geografi, jangan lupakan peta. Seperti pada Kartun Dora The Explorer.

Daftar Pustaka:

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.