Dwi Angga Oktavianto

Sahabatnya siswa dalam belajar Ilmu Kebumian di sebuah SMK Geologi Pertambangan di Pulau Borneo

ANTARA SKETSA DAN GEOLOGI

Saat di lapangan melakukan pengamatan berbagai bentang alam, tentunya kita akan mengabadikannya. Terutama, bagi yang suka pemandangan alam.

Salah satu ilmu yang berhubungan dengan bentang alam ialah geologi.

Namun, apakah kita hanya bisa mengandalkan kamera dari gawai pintar kita saja? Tidak, kita bisa menggambarnya dalam wujud sketsa.

Sketsa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti lukisan cepat (hanya garis-garis besaranya).

Ya menggambar bentang alam ketika praktik lapangan atau fieldstudy yang mempunyai batas waktu tentunya tidak dapat berlama-lama. Nah, membuat sketsa adalah salah satu solusinya.

Penggunaan sketsa lapangan geologi untuk menggambarkan konsep geologi sudah ada sejak hampir seusia geologi itu sendiri (John Noad, 2016).

Geologi merupakan salah satu ilmu yang sangat mengandalkan observasi secara visua, sangat menghargai presentasi data dalam bentuk visual pula (dalam berbagai skala; dari regional, lapangan, hingga sayatan mikrokopis) (Salahuddin Husein, 2013).

Sebagai seorang visual thinker, seorang ahli geologi sering dituntut untuk mampu “menggambar” (Rovicky Dwi Putrohari,2014).

Peta, penampang, diagram, gambar, dan sketsa merupakan cara-cara untuk mempresentasikan data geologi secara visual.

Dahulu seorang geologiawan sangat mengandalkan membuat sketsa untuk menyampaikan informasi geologi yang diperolehnya saat melakukan observasi lapangan.

Kini keahlian tersebut semakin langka. Padahal dengan membuat sketsa, seorang geologiawan akan terus mengasah kemampuan observasi, mengambil dan menonjolkan informasi geologi seraya mengabaikan informasi yang tidak relevan (Salahuddin Husein, 2013).

Gambar 3. Bentang Alam Geologi di Lapangan (Sumber: https://structuralgeo.files.wordpress.com/2013/11/portugal.jpg)

Sekarang begini, apakah mereka mampu atau tidak membuat sketsa penampang geologi di lapangan ? Bisakah mereka membuatnya tanpa menggunakan perangkat lunak di komputer ?” (Koesoemadinata, 2013)

Pertanyaan Koesoemadinata di atas menurut hemat kami merupakan kritikan bagi para geologiawan modern, bahwa tidak semua data geologi dapat digambar dengan baik melalui perangkat lunak.

Mengapa sketsa lebih unggul dari foto? (John Noad, 2016); Pertama dan terpenting, Sketsa geologi dapat menyoroti aspek geologi singkapan dengan cara yang jarang dapat dilakukan oleh foto. Banyak permukaan penting yang tidak menonjol saat dilihat, meskipun secara geologis penting.

Kedua, sketsa memungkinkan sudut pandang yang mungkin tidak dapat dicapai dalam kenyataannya, seperti pandangan mata burung dari singkapan.

Ketiga, sketsa dapat digambar di buku catatan dan dikerjakan hingga ilustrator sangat senang, membuktikan pepatah lama bahwa alat ahli geologi yang paling berguna adalah penghapusnya.

Keempat, menggambar singkapan dalam buku lapangan (fieldnotebook) memungkinkan ahli geologi untuk menambahkan catatan sebanyak yang mereka inginkan, kemudian disimpan di lokasi yang mudah ditemukan dan  mudah diakses untuk bertahun-tahun yang akan datang.

Tidak ada cara lain, berlatih menggambar sketsa geologi dan keluar lah ke lapangan untuk mengasah keterampilan Anda.

Daftar Pusataka:

John Noad. 2016. The (Forgotten?) Art of Geological Field Sketches. Disampaikan pada AAPG Annual Convention and Exhibition, Calgary, Aberta, Canada 19-22 Juni 2016.

Koesoemadinata. 2013. Dalam Oman Abdurahman. Spirit Geologi. Bandung: Badan Geologi.

Rovicky Dwi Putrohari. 2014. https://geologi.co.id/2014/03/26/sketsa-geologi/

Salahuddin Husein. 2013. https://geohedyn.wordpress.com/2013/10/30/sketches-making-the-vanishing-skill-of-modern-geologists/

GAMIFIKASI PEMBELAJARAN GEOSAINS

Data menunjukkan bahwa Pasar Game di Indonesia pada tahun 2018 sebesar US$ 1.1 Billion (sekitar Rp 15 Trilyun). Sangat besar bukan? Jadi kita tidak perlu terlalu heran jika sering melihat siswa main game, bahkan orang dewasa pun banyak yang main game?

Hampir semua siswa menginstal aplikasi game di telephone pintarnya. Game yang diinstal beragam, mulai dari game strategy, game moba, sampai adventure/action. Sebenarnya menginstal dan memainkan game bukanlah sebuah kesalahan, namun sering kali siswa lupa tugas utamanya, yakni sebagai insan pembelajar.

Masalah muncul ketika, siswa yang seharusnya mengendalikan game yang dimainkannya, tetapi malah menjadi dipermainkan oleh game tersebut. Waktu istirahat sibuk dengan gamenya, waktu tidur berkurang, dan tentu waktu belajar menjadi tidak ada.

Beberapa rekan penulis yang berprofesi sebagai guru sering mengeluhkan masalah game. Saat siswa di kelas bermain game, dan seketika guru masuk ke kelas, siswa merasa terganggu waktunya untuk bermain game. Ini bisa dilihat dari ekspresi ketidak sukaan siswa yang terlihat di wajah para pemain game. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak lagi memainkan game, tetapi mereka dipermainkan oleh game.

Kejadian serupa sering kali terjadi di rumah. Ketika anak main game, kemudian Si Anak diminta bantuan orang tua untuk membersihkan kamar atau diminta untuk makan. Biasanya Si Anak akan mengatakan nanti, dengan ekspresi terganggu keasikannya.

Apa Yang Membuat Game Menarik Bagi Siswa dibanding Belajar?

Setidaknya ada tiga elemen yang membuat sebuah game menarik, yakni Competition (Kompetisi), Engagement (Keterikatan), Immediate Rewards (Imbalan Langsung) (serc.carlenton.edu).

Kompetisi merupakan DNA bawaan yang ada pada diri manusia. Dengan adanya kompetisi manusia bisa survive (bertahan). Kompetisi dapat berupa antar individu maupun dalam bentuk pertandingan antar tim. Adanya kompetisi memuat motivasi siswa meningkat.

Dalam keterikatan terdapat unsur challenge (tantangan), curiosity (rasa ingin tahu), control (kontrol), dan fantasy. Manusia terlahir untuk menyukai tantangan, untuk menunjukkan jati diri, siswa pun demikian. Rasa ingin tahu yang besar, membangkitkan semangat siswa untuk mengekslorasi dan mengekploitasi sebuah game.

Kontrol permainan game ada pada pemain. Fantasy merupakan bagian dari Imajinasi. Jika kita ingat, seorang Ilmuan hebat Albert Einstein pun mengungkapkan rahasia kecerdasannya, yakni “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan.”

Imbalan langsung dari bermain game membuat siswa ketagihan bermain game. Jika belajar di kelas langsung mendapat imbalan, seperti siswa TK atau PAUD. Nama siswan di tempel di dinding. Ketika siswa melakukan hal baik, dibelakang namanya diberi bintang. Ini salah satu bentuk imbalan langsung.

Selain ketiga hal di atas, sering kali pressure (tekanan) sebuah game memiliki ukuran masing-masing, menggunakan level 1 (mudah) sampai level tertinggi (sulit). Tetapi di ruang kelas, guru memberikan tekanan (ancaman) yang selalu tinggi.

Bagiamana membuat Pembelajaran Geosains Menarik, Seperti Game?

  • Perhatikan terjadinya Proses Belajar

Selama ini seorang guru langsung mengharapkan siswa untuk belajar. Guru jarang atau bahkan tidak pernah berusaha menumbuhkan motivasi belajar, siswa juga tidak menguatkan motivasi dari dalam dirinya.

Padahal belajar merupakan sebuah proses, yang di awali dengan adanya motivasi. Tanpa motivasi dari dalam diri siswa, ditambah motivasi dari guru dan orang tua, mustahil siswa akan belajar.

Setelah itu, adakan keterikatan antara siswa dan guru. Ini bisa dimaknai sebagai peraturan yang dibuat dalam kesepakatan antara guru dan siswa. Jadi tidak bisa sekehendak guru, dan suka-suka siswa. Harus mengedepankan prinsip kemajuan bersama.

Tentu siswa yang tidak bisa menunjukkan komitmen dalam keterikatan, akan keluar dari permainan (game).

Gambar 1. Proses terjadinya belajar
  • Perhatikan Umpan Balik, Progres, dan Rewards

Sering kali siswa tidak mendapatkan umpan balik yang mereka kerjakan. Bahkan beberapa guru sama sekali tidak mengoreksi tugas siswa. Ini yang perlu dirubah. Agar pembelajaran menyenangkan, sesegera mungkin tugas dari siswa harus mendapat umpat balik dari guru.

Gambar 2. Tiga Bagian Membuat Belajar Semenarik Game

Siswa harus tahu progresnya (kemajuannya) dalam belajar. Progres dapat dilakuan dengan melakukan uji kompetensi ataupun tunamen antar siswa. Jika dilakukan dengan uji kompetensi berati menggunakan Penialain Acuan Patokan (PAP), sedangkan jika dilakukan dengan turnamen berarti menggunakan Penilaian Acuan Norma (PAN).

Progres ini juga dapat dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap siswa. Mengajak siswa berdialog dari hati ke hati akan memberikan gambaran, apakah siswa sudah paham benar tentang kemajuan belajarnya.

Pemberian reward tidak harus berupa materi. Reward dapat diberi dalam bentuk pujian, menampilkan profil dan pencapaian siswa di Sosial Media Sekolah, ataupun bentuk penghargaan yang lain.

Daftar Bacaan:

Harits Ar Rosyid. 2020. Gamifikasi Dalam Pembelajaran. Disampaikan dalam Webinar yang diselenggarakan Program Pascasarjana Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang.

https://serc.carleton.edu/introgeo/games/whatis.html

FORMASI GEOLOGI: BELAJAR DARI GRAND CANYON

Sebelumnya banyak pembaca di pendidikangeosains.id yang menyimak artikel “Formasi Tanjung: Brankas yang Bikin Kaya Binuang”.

Ternyata pembaca bukan saja berasal dari siswa atau mahasiswa yang sedang belajar geologi, tetapi juga masyarakat umum yang masih awam dengan istilah-istilah dalam geologi. Banyak yang bertanya-tanya, apa itu formasi geologi?

Pembaca pasti pernah mendengar kata formasi, bukan? Entah itu formasi mengenai kesebelasan sepak bola yang bertanding atau formasi yang berkaitan dengan tes CPNS.

Ya benar, formasi adalah susunan, kalau kita melihat artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun mengartikan demikian, jika berkaitan dengan pengawai, pengurus, kabinet, dan sebagainya.

Selain itu di KBBI juga dijelaskan formasi dalam olahraga yang berarti susunan atau barisan (sepak bola bola basket dan lain sebagainya) sebagai pola penyerangan atau pertahanan; seperti formasi 4-4-2 atau 4-2-3-1, dapat pula di artikan penempatan pemain atau orang-orang yang akan melakukan senam.

KBBI juga mengartikan arti formasi dalam geo (geologi dan geografi) sebagai seperangkat lapisan atau strata yang memiliki ciri litologis yang sama dan mengandung sisa-sia kehidupan (fosil) yang sama pula.

Seorang ahli geologi bernama Brookfield mengungkapkan arti formasi sebagai berikut;

A formation is a homogeneous rock unit, or an association of distinct interbedded rock units, which are separable from the rock units above and below (Brookfield, M. E., 2004).

Formasi adalah satuan batuan yang homogen, atau asosiasi dari satuan batuan berselang-seling yang berbeda, dapat dipisahkan dengan satuan batuan di atasnya dan yang di bawahnya (Brookfield, M. E., 2004).

Grand Canyon sering digunakan sebagai contoh untuk menjelaskan formasi-formasi geologi. Lapisan-lapisan yang kita lihat pada Grand Canyon tersebut merupakan contoh formasi geologi.

Keterangan Gambar 2 sebagai berikut:

Angka 1-6 (warna hitam paling kiri) pada Gambar 2 merupakan Kelompok Formasi, sedangkan warna putih 1a-6d merupakan formasi.

6 =Kelompok Formasi Hermit, Coconino, Toroweap, dan Kaibab

6d Formasi Kaibab Limestone

6c Formasi Toroweap

6b Formasi Coconino Sndastone

6a Formasi Hermit Shale

5 =Kelompok Formasi Supai

5d Formasi Esplanade

5c Formasi Wescogame

5b Formasi Manakacha

5a Formasi Watahomigi

4 =Kelompok Formasi Temple Butte, Redwall, dan Surprise Canyon

4c Formasi Surprise Canyon

4b Formasi Redwall Limestone

4a Formasi Temple Butte Limestone

3 =Kelompok Formasi Tonto

3c Formasi Muav Limestnoe

3b Formasi Bright Angel Shale

3a Tapeats Sandstone

2 =Kelompok Grand Canyon Super

1 =Kelompok Formasi Vishnu

1b Formasi Zoroaster Granite

1b Formasi Visniphou Schist

Daftar Pustaka:

Brookfield, M. E., 2004.Principles of Stratigraphy. MA: Blackwell Publishing

GEOLOGI PERTAMBANGAN: SEBUAH PENGANTAR

Istilah Geologi Pertambangan berawal dari Geologi Tambang (Mining Geology). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tambang berarti lombong (cebakan, parit, lubang di dalam tanah) tempat menggali (mengambil) hasil dari dalam bumi berupa bijiih logam batu bara, dan sebagainya. Sedangkan pertambangan adalah urusan (pekerjaan dan sebagainya) yang berkenaan dengan tambang.

Gambar 1. Tambang Underground di Sawahlunto

Penulis juga tidak tahu pastinya kapan istilah Geologi Tambang berubah menjadi Geologi Pertambangan, namun yang jelas sebagai suatu Ilmu, Geologi dan Pertambangan merupakan sesuatu yang berbeda.

Hampir semua Perguruan Tinggi di Indonesia, memisahkan Jurusan (Program Studi) antara keduanya. Ada Jurusan Geologi dan ada Jurusan Pertambangan.

Hal ini sama dengan yang berlaku di Colorado School of Mines (Perguruan Tinggi Terbaik di bidang geologi dan pertambangan Versi QS World) Amerika Serikat, kedua jurusan ini terpisah. Meskipun ada Kelompok Riset yang menggabungkan keduanya.

Hanya beberapa Kampus di dunia yang memiliki Jurusan Geologi Pertambangan (tidak dipisah), salah satunya Camborne School of Mines (University of Exeter) Inggris, mempunyai Program Magister Geologi Pertambangan. Untuk Program Sarjana, salah satu yang mempunyai Program Geologi Pertambangan ialah di Curtin University (Australia).

Hanya satu Perguruan Tinggi di Indonesia yang pernah menggabungkan istilah Geologi Pertambangan dalam satu Jurusan, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM).

UGM pada Program Magister Teknik Geologi, pernah membuka Minat Studi Magister Geologi Pertambangan (MGP). Namun sayangnya sekarang MGP sudah ditutup sejak diberlakukan Kurikulum 2017 di Magister Teknik Geologi UGM.

Geologi Pertambangan lebih banyak digunakan di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sebagai nama Program Keahlian (Kompetensi Keahlian).

Apakah itu Geologi Pertambangan?

Mining geology is a specialized area of applied geological sciences that historically evolved as a support for operating mines and for evaluating mining projects (Abzalov, M., 2016).  The main objective of mining geology is to provide detailed geological information, and undertake technical and economic studies to evaluate a mining project (Abzalov, M., 2016).

Geologi tambang adalah aplikasi geologi dalam industri pertambangan (Balfas, M.D., 2015).

Mining geology is an applied science which combines the principles of economic geology and mining engineering to the development of a defined mineral resource (Lacy, W.C., 1983).

Dari ketiga pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa Geologi Pertambangan merupakan ilmu spesialisasi berupa aplikasi dari ilmu geologi untuk mendukung operasi pada industri pertambangan dari menemukan sumber barang tambang (bahan galian) sampai dengan mengevaluasi proyek penambangan.

Jadi dapat dikatakan bahwa Geologi Pertambangan merupakan bagian dari Ilmu geologi yang khusus untuk mendukung penambangan.

Ruang Lingkup

Sebagai sebuah bidang spesialis, Geologi Pertambangan a.k.a Geologi Tambang memiliki ruang ling

1. Pekerjaan Sebelum Penambangan

Meliputi; pencarian (prospeksi) dan pembuktian (eksplorasi) untuk mendapatkan keterangan mengenai letak, bentuk, sifat-sifat, mutu, dan cadangan suatu cebakan mineral (Balfas, M.D., 2015)

2. Pekerjaan Selama Operasi Penambangan

Meliputi: pemetaan, korelasi data, pengembangan, dan pengecekan akurasi data eksplorasi (Balfas, M.D., 2015).

3. Analisis mineral/bahan galian

4. Komunikasi

Menyusun dan menyajikan laporan eksplorasi (Balfas, M.D., 2015).

Colorado School of Mine dalam situsnya mencantumkan ruang lingkup kajian Geologi Pertambangan adalah:

Penggunaan alat geologis untuk mengatasi masalah teknis dan sosial-teknis dalam eksplorasi mineral, pengembangan tambang, produksi, dan reklamasi.

Proyek yang dikerjakan oleh Grup Penelitian Geologi Pertambangan Colorado School of Mines berkaitan dengan:

• Menjelaskan proses geologi yang membentuk deposit bijih untuk mengidentifikasi vektor eksplorasi mineral.

• Menggunakan data geologis untuk meningkatkan keselamatan selama operasi tambang.

• Memanfaatkan geologi endapan bijih dan geokimia untuk pemrosesan mineral yang efisien dan reklamasi tambang yang lebih holistik.

• Mengintegrasikan aspek teknis eksplorasi mineral dan teknik pertambangan ke dalam pelibatan pemangku kepentingan dan desain yang berpusat pada masyarakat.

Daftar Pustaka:

Abzalov, M. (2016). Applied Mining Geology. Swiss: Springer

Balfas, M.D. (2015). Geologi Untuk Pertambangan Umum. Yogyakarta: Graha Ilmu

Lacy, Willard C., ed. (1983). Mining geology. Stroudsburg, Pa.: Hutchinson Ross Pub. Co

https://mininggeologyresearch.mines.edu/1

http://handbook.curtin.edu.au/courses/31/318804.html

http://pasca.geologi.ugm.ac.id/magister/wp-content/uploads/2019/02/2018-07-26-Panduan_Akademik_S2-TGL-2018.pdf

http://www.exeter.ac.uk/postgraduate/courses/mining-engineering/mining-geology-msc/

FORMASI TANJUNG: BRANKAS YANG BIKIN KAYA BINUANG

Cekungan Barito bagian timur memiliki Formasi Tanjung. Formasi tersebut merupakan batuan sedimen tersier tertua di daerah ini.

Selain Formasi Tanjung, di daerah ini juga dialasi oleh batuan sedimen Kelompok Pitap, batuan vulkanik Kelompok Haruyan, Formasi Batununggal dan Paniungan, Granit Belawaian, dan batuan ultrabasa.

Cekungan Barito, sebagai salah satu cekungan tempat beraku­mulasinya sumber daya energi, memiliki endapan batubara dengan sebaran yang sangat luas. Tidak mengherankan jika banyak perusahaan tambang melakukan kegiatan penambangan di daerah ini.

Gambar 1. Lokasi Daerah Binuang

Daerah yang kaya akan batubara ini sudah sejak Pra Kemerdekaan menjadi lokasi yang menarik bagi para geolog. Geolog yang pernah meneliti daerah ini diantaranya; Krol (1920 dan 1925), diikuti oleh Koolhoven (1933 dan 1935), van Bemmelen (1949), dan Marks (1956).

TATANAN GEOLOGI

Batuan sedimen Tersier di daerah ini dialasi oleh batuan Pratersier yang terdiri atas granit dan diorit berumur Kapur Awal, yang menerobos batuan malihan berumur Jura.

Di atas batuan tersebut terendapkan batulempung Formasi Paniungan dan batugamping Formasi Batununggal yang berumur akhir Kapur Awal. Tidak selaras di atasnya menindih batuan sedimen Kelompok Pitap yang terdiri atas Formasi Pudak (tidak tersingkap di daerah penelitian), Keramaian, dan Manunggul.

Kelompok ini menjemari dengan batuan gunung api Kelompok Haruyan (Formasi Pitanak dan Paau). Kedua kelompok batuan tersebut yang menjadi alas Cekungan Barito, berumur Kapur Akhir.

 Batuan sedimen Tersier tertua di daerah ini adalah Formasi Tanjung berumur Eosen Akhir yang terbagi menjadi bagian bawah, tengah, atas, dan Anggota Batulempung. Formasi Tanjung tertindih secara selaras oleh Formasi Be­rai yang berumur Oligo-Miosen.

Formasi Berai di Cekungan Barito bagian utara dan barat menjemari dengan Formasi Montalat. Selanjutnya, Formasi Warukin yang berumur Miosen Tengah menindih secara selaras Formasi Berai.

Kemudian Formasi Warukin ini ditindih secara tidak selaras oleh For­masi Dahor yang berumur Plio-Plistosen.

Sesar di daerah ini umumnya berupa sesar normal sampai geser normal (mendatar) (Gambar 2), membentuk penyesaran bongkah (block faulting). Blok bagian turun ditempati oleh endapan kelompok batuan Tersier, khususnya Formasi Tanjung.

FORMASI TANJUNG

Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya tersing­kap di tiga lajur yang satu sama lain terpisahkan oleh sesar, yaitu Lajur Barat, Tengah, dan Timur.

 Formasi Tanjung di Lajur Barat, tersingkap mulai dari sebelah timur Astambul Kabupaten Banjar di selatan, menyebar ke arah timur laut sampai ke daerah Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Lajur Tengah menempati Sungai Mengkaok, mulai dari muaranya di Sungai Riam Kiwa di bagian selatan, menyebar ke arah timur laut sampai dengan sebelah timur Gunung Kupang di utara.

Selanjutnya, Lajur Timur tersingkap di daerah Ran­taunangka bagian timur.

Secara litostratigrafis Formasi Tanjung di daerah ini, dari tua ke muda menjadi bagian bawah, tengah, atas, dan Anggota Batulempung.

Bagian bawah Formasi Tanjung terdiri atas perselingan batupasir berbutir kasar, batupasir konglomeratan, dan konglomerat, dengan ketebalan berkisar antara 20 – 50 cm.

Ke­mudian diikuti oleh batupasir berbutir kasar berla­pis tebal sampai pejal. Di beberapa tempat, dalam batupasir kasar dijumpai struktur sedimen perlapisan silang-siur dan sejajar, selain itu juga dijumpai si­sipan batulumpur warna kelabu sampai kehitaman mengandung lapisan tipis batubara.

Selanjutnya, bagian tengah didominasi oleh batulempung kelabu berselingan dengan lapisan batubara, setempat dijumpai sisipan batupasir.

Batulempung kelabu, setempat sampai kehitaman, mengandung sisipan tipis (1 – 3 cm) batupasir halus warna kelabu, kompak. Sisipan batupasir (100 – 300 cm), berbutir sedang – kasar, warna kelabu terang, setempat menunjukkan struktur sedimen silang-siur.

Batubara warna hitam, mengilap (bright – bright banded), gores warna hitam, dengan pecahan konkoidal, dan ringan. Batubara ini dijumpai sebagai sisipan dengan ketebalan antara 50 sampai 450 cm.

Di beberapa tempat dijumpai perselingan batulanau dengan batupasir berbutir halus (1 – 3 cm), dengan struktur sedimen perairan sejajar, serta perlapisan wavy-lenticular dan flaser

Bagian atas Formasi Tanjung didominasi oleh perselingan tipis batulanau dan batupasir halus yang memperlihatkan struktur sedimen wavy dan lenticular bedding, serta juga flaser.

Selain itu, dijumpai sisipan batupasir berbutir halus berlapis tipis, tebal 2 sampai 5 cm, dengan struktur sedimen perarian sejajar. Selanjutnya, dijumpai pula sisipan batupasir berbutir kasar dengan ketebalan berkisar antara 1 sampai 5 m

Gambar 2. Penampang terukur bagian bawah, tengah, atas, dan Anggota Batulempung Formasi Tanjung (Heryanto,2008).

LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA

Batuan sedimen pembawa batubara dalam For­masi Tanjung mnempati bagian tengah satuan, yang terdiri atas batulempung – batulanau warna kelabu sampai kehitaman, berasosiasi dengan perselingan batulumpur dan batupasir berbutir halus yang mem­perlihatkan struktur sedimen laminasi sejajar, serta perlapisan wavy, lenticular, dan flaser.

Gambar 3.Singkapan Endapan Rawa Pantai

Lingkungan pengendapan batuan sedimen pem­bawa batubara dan batubara di Lajur Barat mulai dari lingkungan subakuatik (laut) sampai dengan upper – lower delta plain dengan fasies wet for­est swamp (backmangrove sampai rawa air tawar)dalam kondisi genang laut.

Lajur Tengah termasuk ke dalam fasies wet forest swamp (backmangrove sampai rawa air tawar) pada ling­kungan upper sampai lower delta plain, dalam kon­disi genang laut.

 Adapun lingkungan pengendapan batuan sedimen pembawa batubara dan batubara di Lajur Timur termasuk ke dalam fasies wet forest swamp (rawa air tawar) pada lingkungan paparan banjir, dalam kondisi genang laut.

Gambar 4. Singkapan Batubara di Daerah Rantaunangka

Sumber Pustaka:

Heryanto. 2009.   Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara  Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya,  Kalimantan Selatan. Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No. 4 Desember 2009: 239-252

BELAJAR PENDEKATAN KOMPLEKS WILAYAH (REGIONAL COMPLEX APPROACH)

Setelah postingan sebelumnya kita belajar pendekatan keruangan dan pendekatan ekologis, kini saatnya kita belajar pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan ini tak lain merupakan integrasi dari pendekatan keruangan dan ekologis (Yunus, 2008). Holt-Jensen (2009) lebih memilih kata kombinasi daripada integrasi. Namun, kedua kata tersebut tidak memiliki perbedaan yang jauh.

Perlu digaris bawahi bahwa penggunaan istilah regional complex perlu disadari dan dipahami secara benar. Konsep ini menegaskan bahwa perlu adanya pemahaman mendalam tentang property di wilayah bersangkutan dan merupakan regional entity (Yunus, 2008).  Yang menjadi dasar dalam pendekatan ini ialah kompleksitas gejala dari eksistensi suatu wilayah, di samping  efek internalitas dan eskternalitas pada wilayah tersebut.

Letak utama dari unit analisis dalam pendekatan ini adalah perbedaan area (areal differentiations). Caranya ialah dengan membuat garis dan arus (lines and flow) dari masing-masing wilayah, selanjutnya dilakukan pengamatan (Holt-Jensen, 2009). Areal differentiations tiap-tiap satuan wilayah dapat diketahui dengan cara diidentifikasi.

Isitilah regional dan areal differentiations pertama kali dikenalkan oleh Hartshorne (1939), menyatakan bahwa geografi belajar tentang perbedaan wilayah. Inti dari geografi regional ialah mengenai kekhasan wilayah (unique places). Dalam bahasa yang dipakai Taaffe (1974) disebutnya “unique phenomena” (Dalam Khabazi, 2018)

Gambar 1. Contoh Regional Complex Transportasi Komuter di Amerika Serikat
Sumber: https://core.ac.uk/download/pdf/59922509.pdf

Langka Melakukan Pendekatan Kompleks Wilayah

Pertama, identifikasi unit area terkecil.

Kedua, mengamati bagaimana tiap-tiap area terhubung satu sama lain secara sistematis untuk memperoleh gambaran struktur dan fungsional masing-masing area yang lebih luas (sedang).

Ketiga, mengamati area sedang dengan area sedang yang lainnya untuk mengetahui bagaimana area-area tersebut membentuk suatu region (area luas).

Keempat, mengamati bagaimana area luas (region) dengan region lainnya dapat terhubung dan bagaimana pengaturannya (Khabazi, 2018).

Ukuran region tergantung topik (tema) penelitian yang dilakukan, dapat pula berwujud batasan fisik DAS (Daerah Aliran Sungai) ataupun batasan non fisik yang dibuat berdasarkan kriteria tertentu.

Gambar 3. Contoh Region di Daerah Chengdu, China (Topik Industrial) Sumber: https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215656
Gambar 4. Contoh Region di Chengdu, China (Topik Commercial) https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215656

Daftar Pustaka:

Holt-Jensen, A. 2009. Geography History and Concepts : A Student’s Guide. London: SAGE

Khabazi, M. 2018. Regional Geography and Quantitative Geography: Compare and Contrast

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.

BELAJAR PENDEKATAN KELINGKUNGAN (ECOLOGICAL APPROACH)

Gambar 1. Contoh Penerapan Pendekatan Ekologi
Sumber: https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0215796

Sebelum kita mempelajari pendekatan ekologi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tentang ekologi. Istilah ekologi mempunyai arti ilmu yang mempelajari keterkaitan antara organisme dengan lingkungannya (Worster, 1977).

Dalam perkembangannya ilmu ekologi terbagi menjadi tiga arah (fokus) (Yunus, 2008). Pertama, fokus pada analisis kerterkaitan atau interaksi antar organisme dan juga dengan lingkungan biotik dan abiotiknya serta bagaimana akibat yang ditimbulkannya. Kedua, fokus pada scientific ecology (sub disiplin biologi). Ketiga, berkaitan dengan masalah politik dan kebijakan publik, serta dikaitkan dengan norma-norma yang berkembang di masyarakat.

Geografiawan harus membatasi dirinya dalam melakukan analisis ekologi, karena keterbatasan akademik yang dipunyai ilmu Geografi. Diharapkan geografiawan tidak terjebak dalam “scientific ecology” karena itu bukan ranahnya.

Sebagai contoh, geografiawan tidak perlu dan tidak akan mampu menjawab rumusan masalah “Mengapa populasi badak di Ujung Kulon menurun?” pertanyaan semacam ini cocok dijawab oleh ahli scientific ecology, karena modal pengetahuan yang mereka miliki mumpuni.

Pendekatan ekologi seperti apa yang cocok dalam disiplin geografi?

Perlu diingat bahwa geografi merupakan ilmu yang “human oriented” dalam konsep tersebut mengandung makna bahwa manusia dan kegiatan manusia selalu menjadi fokus analisis dalam keterkaitanya dengan lingkungan biotik, abiotik, maupun lingkungan sosial, ekonomi, ataupun kulturlnya (Dangan and Troop, 1995).

Manusia dalam hal tersebut di atas tidak boleh diartikan sebagai makhluk hidup semata yang sama dengan makhluk hidup lainnya (hewan dan tumbuhan), namun manusia diartikan sebagai sosok yang dikaruniai daya cipta, rasa, karsa, dan karya (Makhluk yang berbudi daya) (Yunus, 2008).

Jadi pendekatan ekologi yang dimaksud dalam ilmu geografi ialah analisis mengenai interelasi antara manusia dan atau kegiatannya dengan lingkungan(Yunus, 2008). Dalam analisis ini yang dipelajari adalah hubungan dalam wilayah geografis tertentu (ruang), bukan variasi spasial antar wilayah (Holt-Jensen, 2009).

Jika pendekatan spasial memiliki sembilan tema, maka pendekatan ekologi memiliki empat tema, yaitu;

Human behaviour – environment theme of analysis

Human activity (performance) – environment theme of analysis

Physico natural features (performance) – environment theme of analysis

Physico features (performance) – environment theme of analysis

Sama dengan tema yang ada pada pendekatan spasial, seorang geografiawan tidak harus menggunakan keempat tema yang ada dalam menelaah suatu fenomena geosfer.

Tema Human behaviour – environment theme of analysis

Analisis dalam tema ini berfokus pada perilaku manusia, baik perilaku sosial, perilaku ekonomi, perilaku kultural dan bahkan perilaku politik, baik manusia sebagai individu atau komunitas tertentu.

Contoh, ada masyarakat di daerah dekat hutan lindung yang selalu menebangi kayu pada hutan lindung. Dengan tema Human behaviour – environment theme of analysis analisisnya akan berupaya mencari jawaban mengenai apa latar belakang hal tersebut, bagaimana prosesnya, apa dampak yang ditimbulkan, serta bagaimana mengatasinya.

Gambar 2. Berladang
Sumber: https://nasional.kontan.co.id/news/menjaga-tradisi-berladang-sungai-utik

Tema Human activity (performance) – environment theme of analysis

Analisis dalam tema ini ditekankan pada kinerja dari bentuk-bentuk kegiatan manusia. Jadi kegiatan manusialah yang menjadi fokus pada tema ini. Jika tema pertama tadi menyangkut attitude, maka pada tema ini berkaitan dengan external performance.

 Kegiatan terkait dengan tindakan manusia dalam dalam menyelenggarakan kehidupan sedimikian rupa, seperti kegiatan pertanian, pertambangan, industri, perumahan, pariwisata, dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku berkaitan dengan sifat batiniah dan persepsi.

Contoh, negara maju melakukan kegiatan pertanian secara modern dan menjadikan negara tersebut sebagai eksportir produk pertanian (Amerika Serikat dengan apel dan jeruk), sedangkan pertanian di negara berkembang tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negerinya sehingga perlu impor (Indonesia impor jagung).

Analisis dalam tema ini jika digunakan untuk menguraikan fenomena di atas ialah dengan cara mengungkapkan faktor-faktor internal (yang berkaitan dengan pertanian) dan faktor-faktor eksternal (yang merupakan elemen-elemen lingkungan) selanjutnya dilakukan analisis mendalam. Model penelitian SWOT, dapat diterapkan pada fenomena seperti ini.

Gambar 3. Pertanian di Negara Maju
Sumber: https://nttbangkit.com/belajar-dari-kemajuan-jepang-jadi-raksasa-industri-pertanian-paling-unggul-di-dunia/

Tema Physico natural features (performance) – environment theme of analysis

Analisis ini menekankan pada keterkaitan antara kenampakan fisik alami dengan elemen-elemen lingkungannya.

Contoh, sebuah sungai menunjukkan adanya polusi air yang mengakibatkan banyak ikan (biota) di sungai tersebut mati. Gejala menurunya kualitas sungai dapat ditelusuri dengan menganalisis faktor internal (sungai itu sendiri) seperti pH airnya, kandungan polutan dalam air dan lain sebagainya, dikaitkan dengan faktor eksternal (yang ditimbulkan manusia  yang hidup disekitar sungai) dalam hal ini berkaitan dengan penggunaan lahan di sekitar sungai, industri yang membuang limbah ke sungai, dan lain sebagainya.

Penelitian tersebut diharapkan dapat menemukan jawaban, mengapa terjadi penurunan kualitas sungai, seorang geografiawan juga dituntut mampu mencari solusi secara preventif, kuratif dan inovatif untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memberi saran kepada masyarakat yang ada disekitaran sungai.

Gambar 4. Tercemarnya Air Sungai Mengakibatkan Ikan Mati
Sumber: https://news.harianjogja.com/read/2018/07/22/500/929412/diduga-tercemar-limbah-pabrik-puluhan-ikan-di-mukomuko-mati

Tema Physico features (performance) – environment theme of analysis

Analisis ini menekankan mengenai keterkaitan antara kenampakan fisik budayawi (buatan manusia) dengan elemen lingkungan dimana obyek kajian berada.

Contoh, suatu daerah permukiman tertentu yang semula tidak terjadi penggenangan namun pada akhir-akhir ini terjadi penggenangan sehingga mengakibatkan terjadinya deteriorisasi lingkungan yang hebat. Kompleks permukiman merupakan bentukan artifisial yang bersifat fisikal. Dalam hal ini peneliti dapat bertitik tolak dari faktor-faktor internal (permukiman itu sendiri) dan juga faktor-faktor eksternal (di luar permukiman tersebut) yang diperkirakan mempunyai keterkaitan erat dengan munculnya penggenangan.

Apakah terdapat perubahan iklim khususnys curah hujan, perubahan alur sungai, kondisi laut, kerusakan hutan, penambahan luas pengerasan permukaan tanah yang berakibat bertambahnya run off, hilangnya kantong-kantong penampung air karena faktor alami atau faktor non alami (kebijakan pembangunan yang salah) dan lain sebagainya. Dengan meneliti keterkaitan antara permukiman dan faktor-faktor lingkungannya dapat diketahui penyebab utamanya dan sekaligus geografiwan akan mampu memberikan masukan tentang berbagai alternatif pemecahannya.

Gambar 5. Pembangunan Yang Tidak Memperhatikan Daya Dukung Lingkungan  Menyebabkan Banjir
Sumber: http://terra-image.com/banjir-balkan-dari-citra-satelit/

Daftar Pustaka:

Dangana, L and Tropp, C. 1995. “Human Ecology and and Environmental Ethics”. In M.Archia and S.Tropp (eds.) Environmental Management: Issues and Solution. Chichester: John Wiley and Sons.

Holt-Jensen, A. 2009. Geography History and Concepts : A Student’s Guide. London: SAGE

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.

Worster, D. 1977. Nature’s Economy: A History of Ecological Ideas. Cambridge: Cambridge University Press

BELAJAR PENDEKATAN KERUANGAN (SPATIAL APPROACH)

Bab I Geografi SMA Kelas X antara lain berisi materi Pendekatan Geografi. Materi ini masih sangat debatable (sering menimbulkan perdebatan) di internal geografiawan. Guru geografi pun masih banyak yang limbung dan linglung jikalau ditanya siswa atau kolega mengenai ketiga pendekatan ini. Dalam pencak silat, Pendekatan Geografi seperti halnya kuda-kuda. Jadi harus kuat.

Bahkan soal Ujian Nasional, sebelum UN ditiadakan hampir dipastikan (100%) materi pendekatan geografi muncul, dan banyak siswa yang salah menjawab. Ketika guru geografi membahasnya dalam MGMP ataupun melalui media lain semacam grub WA, juga sering berbeda jawaban.

Permasalahan semacam ini mungkin yang menjadi keprihatinan Prof Hadi Sabari Yunus, dengan mengibaratkan dalam kalimat “adverse negative impact.

Pendekatan Geografi yang ada tiga (spatial, ecological, regional complec approach) merupakan fitrah ilmu geografi (Yunus, 2008). Yang harus dijiwai setiap geografiawan, agar peran ilmu geografi tidak semakin termarginalkan. Pada perkembangannya ketiga pendekatan itu dapat tarik menarik.

Perlu digaris bawahi bahwa pendekatan merupakan suatu metode analisis (pisau analisis) dalam menelaah sebuah fenomena.

Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai pendekatan keruangan.

Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)

Pendekatan ini menekankan analisisnya pada eksistensi ruang (space) sebagai wadah untuk mengakomodasi kegiatan manusia dalam menjelaskan fenomena geosfer (Yunus, 2008).

Pendekatan geografi berkaitan erat dengan objek kajian geografi yang berupa geospheric phenomena (fenomena geosfer), maka segala sesuatunya dalam objek tersebut dapat diamati dengan menggunakan sembilan matra (tema).

Kesembilan matra tersebut ialah (1) pola (pattern); (2) struktur (structure); (3) proses (process); (4) interaksi (interaction); (5) organisasi dalam sistem keruangan (organisation within spatial system); (6) asosiasi (association); (7) tendensi atau kecenderungan (tendencies or trends); (8) pembandingan (comparation); dan (9) sinergisme keruangan (spatial synergism).

Dengan demikian dapat dikembangan sembilan pendekatan keruangan (spatial approach)

(1) spatial pattern analysis;

(2) spatial structure analysis;

(3) spatial process analysis;

(4) spatial interaction analsis;

(5) spatial association analysis;

(6) spatial organisation analysis;

(7) spatial tendency/trends analysis;

(8) spatial comparison analysis;

(9) spatial synergism analysis.

Seorang geografiawan tidak harus melaksanakan sembilan tema tersebut secara bersamaan, karena sebagai manusia kita memiliki keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Memilih satu atau beberapa tema, serta menjelaskan operasionalisasi pendekatannya sangat dimungkinkan dan tidak mengurangi kadar keilmuannya.

Spatial Pattern Analysis

Penekanan utama dari analisis ini adalah sebaran pada elemen-elemen pembentuk ruang. Tahap awal dari analisis ini berupa identifikasi, selanjutnya menjawab geographic questions (pertanyaan geografi) berupa 5W+1H.

What: Fenomena apa yang diteliti?

Where: Dimana fenomena tersebut terjadi?

When: Kapan kenampakan fenomena tersebut ada?

Why: Mengapa terjadi penampakan seperti itu?

Who: Siapa yang mendiami?

How: Bagaimana proses pengelompokan tersebut dapat terjadi?

Uraian yang mengemukakan mengenai jawaban 5W+1H ini harus tercermin dalam daftar isi makalah yang dibuata oleh geografiawan. Kedalaman analisis akan terlihat dari penekanan jawaban yang dimunculkan.

Gambar 2. Pola Permukiman yang Unik di Brondby Haveby Denmark
Sumber: https://unusualplaces.org/inner-circles-circular-gardens-of-brondby-haveby-denmark/

Spatial Structure Analysis

Analisis ini bertumpu pada susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Struktur keruangan dapat berupa fenomena fisikal dan non fisikal. Sebagai contoh daerah agraris, dengan pemanfaatan 75% lahan untuk pertanian, dan 25% untuk lainnya. Untuk memperdalam analisis ini dapat digunakan pertanyaan why, who, dan how. Namun jika hanya ingin mengetahuai deskripsinya, dapat digunakan pertanyaan what, when, dan where.

Gambar 2. Fenomena Fisikal dan Non Fisikal
Sumber: http://asmireland.ie/wp-content/uploads/2012/04/Farm-map-overview.jpg

Spatial Proses Analysis

Analisis ini menekankan pada proses keruangan yang biasanya divisualisasikan pada perubahan ruang. Perubahan tesebut dapat dikemukakan secara kuantitatif dan kualitatif. Setiap perubahan tidak dapat dilepaskan dari waktu kejadiannya, sehingga aspek temporal menjadi peranan utama dalam analisis ini (Yunus, 2008).

Memandingkan sebuah kota atau wilayah pada tahun 1990 dan tahun 2000 tentang perubahan bentang lahannya merupakan contoh fenomena geofer yang dapat dianalisis dengan tema ini. Diperlukan foto udara, ataupun citra satelit multi-temporal untuk fenomena ini. Analsis lebih lanjut dari fenomena temporan dapat dikembangkan dengan menjawab pertanyaan, bagaimana perubahan itu terjadi dan dampak apa saja yang mungkin timbul dari perubahan tersebut?

Gambar 3. Perbandingan Laut Aral dari Tahun 1990, 2000, dan 2010
Sumber: https://www.alamy.com/stock-photo/aral-sea-satellite.html

Spatial Interaction Analysis

Analisis dengan tema ini menekankan pada interaksi antar ruang. Hubungan timbal balik antara ruang yang satu dengan yang lain mempunyai variasi yang sangat besar, sehingga upaya-upaya mengenali faktor pengontrol interaksi menjadi sedemikian penting. Analisis lebih lanjut dengan berusaha menjawab pertanyaan mengapa terjadi interaksi dan bagaimana interaksi terjadi?

Gambar 4A. Pembagian Wilayah China Selatan dan China Utara untuk Analisis Interaksi Spasial Sumber: Sumber: https://www.mdpi.com/2220-9964/9/2/68/htm
Gambar 4B. Interaksi Budaya China Utara dan Selatan
Sumber: https://www.mdpi.com/2220-9964/9/2/68/htm

Spatial Organization Analysis

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui elemen-elemen lingkungan mana yang berpengaruh terhadap terciptanya tatanan spesifik dari elemen-elemen pembentuk ruang. Penekanan utamnya pada keterkaitan kenampakan yang satu dengan yang lain secara individu. Perbedaan antara analisis ini dengan analisis pola adalah pada analisis pola kekhasan aglomerasi menjadi kunci, sedangkan pada analisis organisasi hubungan dan hirarkhi antar elemen menjadi faktor utama.

Spatial Association Analysis

Analisis ini bertujuan untuk mengungkapkan terjadinya asosiasi keruangan antar berbagai kenampakan pada suatu ruang. Untuk mengetahui ada atau tidaknya asosiasi keruangan antar variabel satu dengan lainnya dapat dilakukan dengan menganalisis visualisasi peta dan dengan metode analisis statistik. Apakah ada asosiasi keruangan antara kepadatan penduduk dengan peningkatan tindak kriminal di beberapa tempat di kota?

Gambar 6. Peta Kepadatan Penduduk California dan Peta Rerata Kriminalitas di California Sumber: http://www.geocurrents.info/tag/crime-and-population-density#gallery/0/

Spatial Tendency/Trends Analysis

Analisis ini menekankan upaya mengetahui kecenderungan perubahan suatu gejala. Pertanyaan seperti ke arah manakah perkembangan Kota Surakarta? Merupakan salah satu contoh fenomena geosfer yang harus dijelaskan dengan analisis ini. Ya memang benar analisis ini merupakan kelanjutan dari tema analisis sebelumnya, seperti spatial pattern analysis, sapatial structure, spatial process, dan spatial asociation. Membaca trend perekembanganfenomena geosfer seperti perkembangan permukiman disarankan menggunakan analisis ini.

Spatial Comparison Analysis

Analisis ini mempunyai tujuan untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan suatu ruang dibandingkan dengan ruang lainnya. Studi banding merupakan salah satu contoh kegiatan dalam analisis semacam ini. Fenomena terbaru ialah pemilihan Ibukota di Indonesia baru-baru ini, dari ketiga calon ibu kota, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Dipilihlah Kalimantan Timur sebagai letak Ibukota negara Indonesia yang baru, berdasarkan berbagai aspek multi disiplin keilmuan.

Gambar 8.A Postingan Presiden Jokowi Mengenai Tiga Calon Ibu Kota Negara di Instagram Sumber: https://regional.kompas.com/read/2019/08/09/17411841/ini-alasan-lokasi-lahan-ibu-kota-baru-di-kalsel-masih-dirahasiakan

Spatial Synergism Analysis

Analisis ini akan sangat berguna untuk merencanakan, mengaplikasikan dan mengevaluasi konsep pembangunan kerja sama antar wilayah, seperti Jabodetabek, Joglosemar, Kartamantul, Gerbang Kertasusila, Banjarbakula dan lain sebagainya. Selama ini kerja sama antar wilayah masih sekedar penamaan, belum mengintegrasikan visi antar wilayah, sehingga terkesan masing-masing wilayah berjalan sendiri-sendiri.

Belajar pendekatan spasial memang tidak bisa dilepaskan dari peta. Ruang (space) memang lebih mudah dipelajari dengan peta. Jadi jika kalian sedang belajar geografi, jangan lupakan peta. Seperti pada Kartun Dora The Explorer.

Daftar Pustaka:

Yunus, H.S. 2008. Konsep dan Pendekatan Geografi: Memaknai Hakekat Keilmuannya. Makalah disampaikan dalam Sarasehan Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Geografi Indonesia pada tanggal 18-19 Januari 2008 di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta.

GOOGLE EARTH DALAM PEMBELAJARAN PENGINDERAAN JAUH TINGKAT SMA

Tulisan ini terinspirasi dari Kuliah Online, yang difasilitasi Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (16 s.d 22 April 2020)

Permasalahan Dalam Pembelajaran Penginderaan Jauh

Geografi pada Kurikulum 2013 memiliki tujuan agar siswa mampu memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan dengan gejala geosfera dalam konteks nasional dan global. Selain itu juga bertujuan agar siswa menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi geografis.

Dalam dua tujuan tersebut dapat dikatakan bahwa salah satu materi utama dalam geografi di Tingkat SMA adalah Penginderaan Jauh. Materi ini mempunyai keunggulan untuk memaksimalkan pemahaman pola spasial, kelingkungan dan kewilayah bagi siswa, dan juga dapat memberikan keterampilan dalam memperoleh data dan informasi geografis bagi siswa.

Pembelajaran Penginderaan Jauh yang sangat penting, dibarengi dengan tingkat kompleksitas yang tinggi membuat guru SMA mengalami kesulitan. Berbagai permasalahan dalam pembelajaran Penginderaan Jauh di tingkat SMA antara lain; 1) Guru kurang menguasai materi Penginderaan Jauh sehingga masih menjadi kendala dalam memahami dan menyampaikan materinya; 2) Guru kurang menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dalam mengajar Penginderaan Jauh; 3) Guru dalam proses pembelajaran tidak menggunakan media yang sesuai dengan materi; 4) Guru tidak pernah mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidika (Ningsih dkk., 2016).

Masalah yang disampaikan di atas bersumber dari guru geografinya. Selain dari guru tentu masalah juga dapat disebabkan oleh kesalahan kurikulum pada materi penginderaan jauh, intake siswa, ataupun daya dukung sarana dan prasarana yang ada di Sekolah.

Seperti kita ketahui, bahwa di tingkat SMA geografi dimasukkan ke dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau Ilmu-ilmu Sosial. Tidak seperti rumpun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau MIA, sebagian besar sekolah belum menyediakan laboratorium khusus bagi geografi untuk kegiatan pembelajaran.

Fokus pembelajaran Penginderaan Jauh di SMA sepertinya masih pada taraf kognitif. Hal ini berbeda di luar negeri, siswa setingkat SMA dilatih memanfaatkan Penginderaan Jauh untuk memahami materi geografi lainnya (Cheung dkk., 2011), jadi fokus mereka pada pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh. Penginderaan jauh merupakan salah satu teknologi untuk memahami proses keruangan (spasial) dan membantu berpikir secara geografis (think geographically) (Nellis, 1994).

Sering kita jumpai soal ulangan harian atau bahkan Penilaian Akhir Semester (PAS) yang lebih fokus pada pengukuran tingkat kognitif anak.  Pertanyaan seperti, Bagaimana definisi Penginderaan Jauh menurut Lillesan & Kiefer? Masih menjadi soal favorit bagi guru-guru geografi.

Penugasan portofolio masing jarang dilakukan. Padahal jenis penialain seperti ini lebih memungkinkan untuk mengukur tingkat kognitif, psikomotorik, dan bahkan afektif siswa. Perlu adanya penugasan portofolio dengan menggunakan teknologi Penginderaan Jauh.

Penelitian Terdahulu Dalam Pembelajaran Penginderaan Jauh

Berbagai media pembelajaran digunakan dalam pembelajaran geografi. Penggunakan media pembelajaran interaktif terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Penginderaan Jauh (Hanim dkk., 2016) (Wahyudi, 2012), sayang kedua penelitian ini tidak menyebutkan medianya secara spesifik seperti apa. Media pembelajaran berbasis Android efektif dalam pembelajaran penginderaan jauh (Wardana dkk., 2019), sayangnya dalam penelitian ini juga tidak menyebutkan secara spesifik nama dari aplikasi yang digunakan. Pembelajran materi ini juga dapat mengggunakan diorama (Bagus Suprayogi & Perdana Prasetya, 2020). Media pembelajaran berbasis flash tidak cocok untuk pembelajaran penginderaan jauh (Fitria Rahmawati, 2014).

Bermacam model pembelajaran juga telah digunakan dalam pembelajaran Penginderaan Jauh. Model pembelajaran yang disarankan untuk materi Penginderaan Jauh adalah Project-Based Learning (Irawan, 2014). Inquiry-Based Learning dengan menggunakan balon udara juga efektif dalam pembelajaran (Mountrakis & Triantakonstantis, 2012). Pengajaran Penginderaan jauh dapat dilakukan dengan tatap muka (face-to-face), blended, dan online, namun dari ketiganya yang paling efektif adalah pengajaran online (Manzano-Agugliaro dkk., 2016). Pembelajaran online ini tentunya disertai penugasan portofolio.

Teknologi terbaru dan modern telah dimanfaatkan untuk pembelajaran geografi. Drone dapat membuat siswa fokus memperhatikan materi penginderaan jauh pada sub materi citra foto udara (Rochaeni, 2019). Smarthphone Camera Quadcopter mampu meningkatan motivasi siswa dalam belajar materi penginderaan jauh (Al-Matna, 2018). Pemanfaatan teknologi memungkinkan dapat membantu tercapainya tujuan pembelajaran Penginderaan Jauh.

Penginderaan Jauh dapat dijadikan alat dalam melakukan analisis spasial terhadap objek kajian geografi. Hal ini yang sering kali Guru Geografi lewatkan. Sebagian besar dari kita hanya berfokus memberikan materi Penginderaan Jauh, seperti pengertiannya, perbedaan foto udara dan citra satelit, pengertian interpretasi citra, jenis-jenis citra dan lain sebagainya. Materi yang diberikan sering kali hanya berfokus pada buku paket, sehingga kesannya sangat tekstual dan berupa menjejali otak siswa dengan kognitif, tanpa dibarengi membekali siswa keterampilan (psikomotorik) dalam memanfaatkan Penginderaan Jauh.

Google Earth Sebagai Solusi

Solusi ini disampaikan oleh Bapak Agus Anggoro Sigit, M.Sc (Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta) dalam Kuliah Online (Kulon) dengan Guru-Guru Geografi Indonesia yang tergabung dalam Komunitas Geografi pada 18 April 2020. Solusi ini digunakan untuk Materi Kependudukan dengan memanfaatkan Teknologi Penginderaan Jauh.

Pertama, buat sebuah tugas proyek portofolio yang menarik minat siswa untuk belajar. Sebagai contoh, Siswa diminta menghitung perkiraan jumlah penduduk dilakukan dengan pendekatan jumlah bangunan rumah. Citra yang sesuai untuk digunakan adalah Citra Resolusi Sangat Tinggi (CRST) seperti Quickbird atau Ikonos atau citra lain yang memiliki resolusi tinggi.

Mengapa disarankan CRST? Karena citra ini memungkinkan bangunan rumah tersadap dengan jelas. Penggunaan Google Earth Pro dimungkinkan karena mampu menampakkan obyek bangunan rumah dengan baik.

Berikut contoh Citra Satelit Resolusi Tinggi (CRST) Quickbird di sebagian daerah Kab. Klaten tahun 2018.

Gambar 1. CSRT di daerah Ceper, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah (Sumber: CItra Quickbird Kabupaten Klaten 2018)

Kedua, Berikan materi yang aplikatif dan sederhana agar mudah dicerna oleh siswa. Siswa perlu dikenalkan dengan metode (pendekatan) sederhana perhitungan penduduk dengan basis zonasi. Metode (pendekatan) perhitungannya antara laun:

  1. Pendekatan Bangunan Rumah
  2. Pendekatan Klas Ukuran Bangunan Rumah
  3. Pendekatan Klas Ukuran Bangunan Rumah dengan Survei

Ketiga metode tersebut sekaligus menunjukkan tingkat ketelitian.

Metode 1 dilakukan hanya dengan menentukan jumlah bangunan rumah.

Metode 2 : menentukan jumlah bangunan rumah berdasarkan klasifikasi rumah besar, sedang dan kecil dengan asumsi jumlah jiwa semakin banyak di rumah yang lebih besar.

Rata-rata penghuni untuk tiap kelas ukuran bangunan rumah ditentukan dengan asumsi (karena tidak pakai survei dahulu) baru dikalikan jumlah bangunan rumah masing-masing kelas, kemudian dijumlahkan total.

Metode 3 : sama seperti metode 2 hanya saja rata-rata penghuni untuk tiap kelas ukuran bangunan rumah ditentukan berdasarkan survei terlebih dahulu, bukan dengan asumsi. Citra diinterpretasi bangunan rumahnya sesuai ukuran, kemudian menentukan sampel rumah yang akan disurvei, hasilnya dijadikan pedoman untuk menghitung rata-rata penghuni tiap kelas ukuran bangunan rumah.

Ketiga, lakukan pembelajaran secara saintifik (meskipun cuma sederhana) dengan

Langkah Metode 1

  1. Menentukan AOI (Area of Interest) atau area terpilih (missal : blok, RT, atau desa/kelurahan) dengan membatasi zona atau wilayahnya.
  2. Menentukan bangunan rumah dengan memberi tanda (digitasi point bila mengggunakan GIS), bisa juga secara manual dengan memprint citra.
  3. Menghitung jumlah bangunan rumah yang sudah ditandai dengan point atau tanda lain dalam citra.
  4. Menentukan rata-rata jumlah penghuni (dengan asumsi, missal satu rumah rata-rata dihuni 5 orang).
  5. Menghitung jumlah total penghuni dengan cara mengalikan hasil no. 2 dan no 4.
  6. Hasil no 5 adalah hasil perkiraan jumlah penduduk di area yang dipilih.
Gambar 2. CSRT digunakan untuk Metode 1
(Sumber: Citra Quickbird Kabupaten Klaten 2018)

Perhitungan Metode 1:

Apabila diasumsikan rata-rata penghuni untuk tiap bangunan rumah (point warna hijau) sebanyak 5 orang, maka jumlah penduduk pada zona tersebut kurang lebih sebanyak :

Jumlah Penduduk = jumlah point x rata-rata penghuni per rumah

Apabila terhitung jumlah point sebanyak 41 buah, maka jumlah penduduk zona tersebut sebanyak 41 x 5 = 205 jiwa

Langkah Metode 2

  1. Menentukan AOI (Area of Interes) atau area terpilih (missal : blok, RT, atau desa/kelurahan) dengan membatasi zona atau wilayahnya
  2. Menentukan bangunan rumah dengan memberi tanda (digitasi point bila mengggunakan GIS) berdasarkan kelas ukuran relative bangunan rumah (kecil, sedang dan besar)
  3. Menghitung jumlah bangunan rumah yang sudah ditandai dengan point atau tanda lain dalam citra untuk setiap ukuran rumah
  4. Menentukan rata-rata jumlah penghuni (dengan asumsi) misal satu rumah kecil 3 orang, rumah sedang 5 orang dan rumah besar 7 orang
  5. Menghitung jumlah total penghuni tiap ukuran rumah dengan cara mengalikan jumlah rumah tiap ukuran dengan rerata jumlah penghuni masing-masing
  6. Menghitung jumlah total penduduk zona terpilih dengan menjumlahkan hasil nomor 5
Gambar 3. CSRT digunakan untuk Metode 2
(Sumber: CItra Quickbird Kabupaten Klaten 2018)

Perhitungan Metode 2:

  • Rumah kecil jumlah 13 buah, rerata penghuni 3, jumlah 39
  • Rumah sedang jumlah 21 buah, rerata penghuni 5, jumlah 105
  • Rumah besar jumlah 7 buah, rerata penghuni 7, jumlah 49

Berdasarkan perhitungan di atas, maka jumlah total penghuni sebagai perwujudan jumlah penduduk sebesar 39+105+49 = 193 jiwa

Langkah Metode 3

  1. Menentukan AOI (Area of Interes) atau area terpilih (missal : blok, RT, atau desa/kelurahan) dengan membatasi zona atau wilayahnya
  2. Menentukan bangunan rumah dengan memberi tanda (digitasi point bila mengggunakan GIS) berdasarkan kelas ukuran relative bangunan rumah (kecil, sedang dan besar)
  3. Menghitung jumlah bangunan rumah yang sudah ditandai dengan point atau tanda lain dalam citra untuk setiap ukuran rumah
  4. Menentukan rata-rata jumlah penghuni (berdasarkan hasil survei) misal satu rumah kecil 3 orang, rumah sedang 5 orang dan rumah besar 7 orang
  5. Menghitung jumlah total penghuni tiap ukuran rumah dengan cara mengalikan jumlah rumah tiap ukuran dengan rerata jumlah penghuni masing-masing
  6. Menghitung jumlah total penduduk zona terpilih dengan menjumlahkan hasil nomor 5

Metode 3 hampir sama dengan metode 2. Perbedaan hanya pada penentuan rata-rata penghuni tiap klas ukuran bangunan rumah. Metode 3 lebih mendekati kebenaran, karena rata-rata penghuni ditentukan bukan berdasarkan asumsi melainkan fakta.

Citra dengan Quickbird memerlukan biaya, kemungkinan guru ataupun pihak sekolah kesulitan untuk pengadaannya (Sigit, A.A. 2020). Google Earth dapat menjadi solusi dalam penyediaan citra Penginderaan Jauh. Citra Resolusi Sangat Tinggi (CSRT) dapat disediakan oleh Google Earth Pro (GEP). Google Earth dapat diakses secara gratis, memudahkan dalam membedakan bentang lahan alamiah dan buatan, membantu belajar memvisualkan, dan memahami proses spasial yang terjadi di permukaan bumi (Oktavianto, 2017). Jadi, Metode 1, 2, dan 3 dalam perhitungan penduduk dapat juga digunakan melalui Google Earth.

Gambar 4. Citra Resolusi Sangat Tinggi (CSRT) dari Google Earth Pro (Sumber: Google Earth Pro)

Catatan:

Perkiraan jumlah penduduk ini hanyalah sebuah pendekatan, sehingga sangat dimungkinkan adanya perbedaan dengan hasil sensus. Perkiraan jumlah penduduk melalui aplikasi Penginderaan Jauh ini dapat membantu analisis saat data jumlah penduduk bukan dihitung berdasarkan zona administrasi tertentu, namun berdasarkan batas zona analisis terkait dengan tujuan dari sebuah kajian dilakukan (Sigit, A.A., 2020).

Daftar Pustaka Utama:

Sigit, A. A. (2020). Aplikasi Penginderaan Jauh Untuk Pembelajaran Geografi. Bahan Kuliah, disampaikan pada Kuliah Online dengan Guru Geografi Indonesia pada 18 April 2020.

Daftar Pustaka:

Al-Matna, A. T. (2018). PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI BERBASIS SMART CAM COPTER (SMARTPHONE CAMERA QUADCOPTER) PADA SMA KELAS 12 IPS DI MAN 2 KEDIRI. SKRIPSI Jurusan Geografi – Fakultas Ilmu Sosial UM, 0(0). http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/Geografi/article/view/66019

Bagus Suprayogi, M., & Perdana Prasetya, S. (2020). PENGEMBANGAN MEDIA DIORAMA GEOGRAFI PADA MATERI PENGINDERAAN JAUH KELAS X UNTUK SMA/MA. Swara Bhumi, 1(1). https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/swara-bhumi/article/view/31991

Cheung, Y., Pang, M., Lin, H., & Lee, C. K. J. (2011). Enable Spatial Thinking Using GIS and Satellite Remote Sensing – A Teacher-Friendly Approach. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 21, 130–138. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2011.07.014

Fitria Rahmawati, R. (2014). Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Flash Dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Siswa Pelajaran Geografi KD Menjelaskan Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh Kelas XII IPS SMA Negeri 2 Mejayan Kabupaten Madiun. Swara Bhumi, 2(1). https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/swara-bhumi/article/view/7500

Hanim, F., Sumarmi, S., & Amirudin, A. (2016). PENGARUH PENGGUNAAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF PENGINDERAAN JAUH TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 1(4), 752–757. https://doi.org/10.17977/jp.v1i4.6246

Irawan, L. Y. (2014). Pengaruh Model Project Based Learning terhadap Kemampuan Menginterpretasi Citra Penginderaan Jauh Siswa MA. DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 0(0). http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/34235

Manzano-Agugliaro, F., Castro-García, M., Pérez-Romero, A. M., García-Cruz, A., Novas, N., & Salmerón-Manzano, E. (2016). Alternative methods for teaching cadastre and remote sensing. Survey Review, 48(351), 450–459. https://doi.org/10.1179/1752270615Y.0000000046

Mountrakis, G., & Triantakonstantis, D. (2012). Inquiry-Based Learning in Remote Sensing: A Space Balloon Educational Experiment. Journal of Geography in Higher Education, 36(3), 385–401. https://doi.org/10.1080/03098265.2011.638707

Nellis, M. D. (1994). Technology in Geographic Education: Reflections and Future Directions. Journal of Geography, 93(1), 36–39. https://doi.org/10.1080/00221349408979683

Oktavianto, D. A. (2017). PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK BERBANTUAN GOOGLE EARTH TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR SPASIAL. Jurnal Teknodik, 21(1), 059. https://doi.org/10.32550/teknodik.v21i1.227

Rochaeni, E. (2019). PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN GEOGRAFI DRONE MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA MATERI PENGINDERAAN JAUH (Studi di Kelas XII SMA Negeri 9 Kota Tasikmalaya). Jurnal METAEDUKASI, 1(2). http://jurnal.unsil.ac.id/index.php/metaedukasi/article/view/1211

Wahyudi, A. (2012). Pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif Mata Pelajaran Geografi, Materi Penginderaan Jauh Untuk SMA/MA Kelas XII. (Tesis). DISERTASI dan TESIS Program Pascasarjana UM, 0(0). http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/22990

Wardana, F., Utaya, S., & Bachri, S. (2019). Media Penginderaan Jauh Berbasis Android dalam Pembelajaran Geografi SMA. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 4(7), 863–868. https://doi.org/10.17977/jptpp.v4i7.12615

LATIHAN MEMBUAT ASESMEN KOMPETENSI MINIMAL (AKM) DI SAAT COVID-19 MELANDA

Gambar Perkembangan Kasus Covid-19 di Kalimantan Selatan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, tahun 2020 akan menjadi tahun terakhir pelaksanaan ujian nasional (UN). UN pada tahun 2021 akan diganti dengan Asesmen (Penilaian) Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

Asesmen tersebut tidak dilakukan berdasarkan mata pelajaran atau penguasaan materi kurikulum seperti yang selama ini diterapkan dalam ujian nasional, melainkan melakukan pemetaan terhadap dua kompetensi minimum siswa, yakni dalam hal literasi dan numerasi.

Langkah Mendikbud ini ternyata didukung alam semesta (mestakung) dengan adanya pandemi Covid-19. Pandemi tersebut membuat UN 2020 pun ditiadakan. Setahun lebih awal dari rencana Mas Menteri.

Tantangan bagi seorang guru boleh dibilang tidak lebih ringan. Menyiapkan siswa menghadapi UN berat, untuk menghadapi AKM juga tidak ringan. Ini termasuk belum terbiasanya kita dalam hal literasi, numerik, dan tentunya karakter.

Seorang di tempat yang baru dikunjungi, seperti bandara, terminal, atau stasiun atau mal, biasanya memilih untuk bertanya kepada security atau pengunjung lain untuk mengetahui letak toilet. Kebanyakan dari kita lebih suka bertanya, dibanding membaca petunjuk arah yang banyak tersebar dan bisa menuntun kita ke toilet. Ini hanya contoh kecil saja, rendahnya literasi yang kita miliki, dengan kata lain kita bangsa yang enggan membaca.

Apa Itu Asesmen?

Asesmen merupakan kegiatan untuk mengungkapkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Banyak yang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi (evaluation), penilaian (assessment), pengukuran (measurement), dan tes (test), padahal keempatnya memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda.

Evaluasi adalah kegiatan mengidentifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement).

Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa.

Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif dan nilai kuantitatif. Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. Hubungan antara berbagai istilah tersebut adalah sebagai berikut.

Gambar 1. Asesmen

Bagaimana Menyusun Soal AKM?

Soal AKM yang disusun ini berdasarkan materi pelajaran dan berusaha untuk memasukkan unsur literasi, numerik dan karakter. Soal dapat dilihat di https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSezQNGPL-IRO4XNqdhF5Jsi-ndhM7tzvxu1TI_vcL7FSSsRUw/viewform

Sebelum memberikan soal, tentunya juga disiapkan materi. Materi disediakan dalam bentuk PDF. Dalam materi tersebut berisi peta, data kasus Covid-19, dan materi mengenai Covid-19.

Soal dan materi ini berkaitan dengan pemetaan dan Covid-19. Dalam situasi seperti sekarang ini, kita tidak bisa hanya mengajarkan dan melakukan asesmen mengenai materi pelajaran dalam bentuk kompetensi dasar saja. Perlu usaha kontekstual untuk mengkaitkan dengan  kasus yang sekarang menjadi tantangan buat siswa dan masayarakat. Ini mungkin juga bisa dimanfaatkan sebagai dasar membuat AKM yang berisi tes literasi, numerik, serta karakter.

Hasil Uji Coba AKM

Gambar 2. Cara Mencegah Corona

Soal pertama berkaitan dengan karakter dan literasi, siswa yang sudah diberikan materi tentang cara mencegah dari tertular Covid-19, ternyata masih belum memuasakan dalam menjawab pertanyaan nomor 1.

Soal kedua tentang karakter hidup sehat. Kita harus mengakui bahwa dunia pendidkan kita belum maksimal memberikan pembelajaran mengenai hidup sehat.

Soal ketiga merupakan bentuk literasi dan numerik. Literasi mengenai kemampuan siswa dalam membaca data dan peta. Serta numerik berkaitan dengan angka ODP Covid-19. 72,4 % menjawab dengan tepat, sedangkan sisanya masih belum mampu memahami cara membaca data.

Gambar 3. Pemahaman Siswa Tentang Data ODP

Soal keempat mengenai kemampuan numerik, siswa diminta membandingkan data kasus PDP dan Positif (konfirmasi) Covidd-19 di Provinsi Kalimantan Selatan. Dari perbandingan angka tersebut siswa diminta memilih grafik yang menunjukkan data angka yang benar. Tenyata hanya 41,4% siswa yang mampu menjawab dengan benar.

Gambar 4. Persentase Jawaban Siswa Pada Soal 4

Soal nomor lima tentang materi pemetaan. Ini tidak berkaitan dengan AKM, tapi berkaitan dengan kompetensi dasar.

Soal keenam siswa sudah dibawa untuk berpikir kritis. Dari data yang mereka baca, mereka diminta untuk memberi masukan mengenai kemungkinan Kalimantan Selatan untuk lockdown (karantina wilayah).

Gambar 5. Persantase Tanggapan Siswa Tentang Perlu Tidaknya Karantina Wilayah

Soal kedelapan meminta siswa untuk memberikan alasan mengapa mereka menyarankan untuk melakukan Karantina Wilayah. Soal ini dapat dijawab secara baik oleh siswa, jika mereka mengikuti perkembangan terakhir mengenai Covid-19 dari berbagai sumber. Siswa yang tidak terbiasa membaca perkembangan kasus ini, menjawab dengan singkat dan tidak memuaskan, seperti “tidak, karena tidak suka adanya karantina wilayah”.

Soal kesembilan mengenai karakter siswa. Ini berkaitan dengan olah rasa, atau afektif siswa. Dengan adanya Covid-19 ini bagaimana tingkat kekhawatiran mereka.

Gambar 6. Persentase Tingkat Kekhawatiran Siswa

Soal kesepuluh siswa diminta untuk memberikan sumbangsih dari ilmu pengetahuan atau keterampilan yang mereka miliki (setelah belajar pemetaan) dalam menangani pandemi Covid-19. Siswa ternyata belum bisa mengungkapkan apa yang akan mereka perbuat. Ini kelemahan pendidikan kita. Selama ini siswa diminta hanya menyelasaikan tugas dan ujian yang berbasis pada sesuatu yang tekstual. Guru dan otoritas pendidikan belum mampu menyiapkan pembelajaran yang kontekstual.

AKM yang telah coba dibuat ini setidaknya memberikan gambaran, bahwa membuat soal AKM tidak mudah. Literasi dan numerik juga sepertinya perlu lebih  digalakan. Terakhir, pendidikan kita (penulis) belum mampu menyiapkan generasi untuk menjawab (menyelesaikan) masalah secara kontekstual, masih sebatas tekstual sehingga gagap menghadapi problema.

Sepertinya tidak hanya pemerintah yang gagap menghadapi Covid-19 ini. Masyarakat pun juga, termasuk penulis sebagai guru. Saatnya kita belajar lebih giat lagi.